Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 November 2013

Dua Karib, Musim yang Ganas dan Pelajaran Cinta

Seingatku, kami tak pernah berembuk lebih dulu untuk pergi ke tempat itu bersama-sama. Sering kali kejadiannya ialah; jika bukan aku yang mulai melayang karena pengaruh bergelas-gelas tuak, pasti ia yang telah mengoceh entah tentang apa ke pemilik kedai saat aku tiba.

Terakhir kudapati ia tengah asyik meracau serta bernyanyi riang dalam harmoni nada yang lumayan berantakan. Sementara kami duduk berhadapan, dia pun tangkas melontarkan beberapa lelucon menggelikan diselipi obrolan menyangkut persoalan pelik negara dengan telaah cukup kritis dan tajam.

”Jadi begitulah sobat. Tuak tak serta-merta membikin analisa kita jadi ngawur, bukan? Para pembikin kebijakan itu yang justru sering melakukannya,” tandasnya setelah purna dengan satu bahasan.

Sambil terkekeh menatap gayanya yang sok pahlawan aku merespons dengan mengangkat gelas kosong tinggi-tinggi.

”Akur, akur, wahai Nakae Chomin [1]” Dia terbahak.

Malam terasa makin riang, tak beda jauh dengan suasana hati pengunjung. Raut wajah mereka mulai merah tapi tak mengesankan hati yang membara. Sekumpulan pelanggan di sebuah meja masih bersemangat melantunkan lagu gembira tanpa peduli keruwetan yang tertimbun dalam kepala. Di meja pojok, dua pemikir ulung sedang bersenandung sembari memelototi papan catur di hadapannya.

Di kedai itu kami memang tak pernah menemui senja yang murung dan pendiam. Selalu riuh penuh daya membuat malam seakan tergesa memburu pagi. Beruntung tempat itu agak renggang dari pemukiman hingga tak mengundang gesekan.
Kawasan terminal memang memberi keleluasaan bagi keriuhan macam demikian.

Mendekati fajar satu per satu pengunjung beranjak pergi, menyiapkan rencana masing-masing menyongsong hari. Ada penggiat di organisasi massa, di bisnis transportasi -pengemudi kendaraan umum tepatnya, pedagang, dan banyak profesi lain. Termasuk profesi dari strata yang konon terpandang. Begitulah keistimewaan di sana, jauh dari pemilahan kelas. Dan saat pesta usai, semua kembali pada semangat mengurai kehidupan. Dengan kepala agak pening dan mata berat tentu saja.

Begitulah kami terakhir bertemu sekira tiga minggu yang lalu. Sejujurnya aku selalu jatuh cinta pada benda itu nyaris ke tiap lekukannya. Bentuknya besar, kokoh, merah menyala. Juga pada semangat yang memancar ketika sirene dibunyikan. Semangat hebat yang menjauhkan hal-hal menyangkut kebinasaan, mendekatkan hal-hal tentang merawat kehidupan.

Meski aku tahu setiap kali melesat dari markas boleh jadi itu adalah kesempatan terakhir bertugas bersamanya, namun demikian sungguh tak pernah menyesal mengenal benda tersebut. Tidak pernah. Bagaimana bisa aku menafikan kebahagiaan saat bergelayut di atasnya? Semua kendaraan menepi, memberi ruang bagi kami memecah antrean. Termasuk pula iring-iringan kendaraan yang katanya berisi orang-orang penting. Biasanya mereka tak akan peduli pada urusan pemakai jalan lain. Selalu minta didahulukan meski tidak darurat. Saat kami menderu di jalan seraya membunyikan sirene—dengan menggerutu atau sukarela—pada akhirnya mereka pasti menyisi.

”Kini siapa yang lebih penting?” ujar seorang dari tim kami dengan kesan kemenangan di wajahnya.

Entah kapan persisnya aku jatuh cinta pada pekerjaan ini. Mungkin saat aksi ketiga, atau lebih condong di aksi kelima. Waktu aku putuskan melompat dari lantai tiga sebuah ruko sambil mendekap bocah perempuan. Bila tak segera melompat ke arah pengaman yang direntangkan rekan satu tim di bawah, sepertinya bocah itu tak akan tertolong. Keburu mati lemas akibat terlalu banyak menghirup asap. Waktu itu tim memang gagal menyelamatkan harta pemilik rumah karena api telanjur menyebar. Kami hanya berhasil menjauhkan pasangan muda itu dari kehilangan terbesar mereka; kematian anak perempuan satu-satunya.

Aku sempat bertatapan sejenak dengannya sebelum bocah itu dilarikan ke rumah sakit. Ia tak bersuara walau bibirnya bergetar bagai hendak berkata. Mungkin kondisinya terlalu lemah. Atau karena ia baru melewati satu peristiwa hebat dalam hidupnya. Cuma mata yang berkaca-kaca itu seolah lugas berbahasa. Aku tersenyum mengelus keningnya sebelum ia ditandu ke mobil ambulan. Rasanya kami telah berkomunikasi dengan gamblang meski tanpa mengecer kata-kata.

Ya benar, rupanya sejak itulah aku mulai mencintai pekerjaan sebagai branwir. Satuan pemadam kebakaran yang telah terbentuk dari zaman penjajahan Belanda. Konon dahulu di kota ini pernah terjadi kebakaran hebat. Sebagaimana alasan penjajah ketika membangun sesuatu, mungkin dahulu mereka membentuk satuan ini demi kepentingan mengamankan kantor atau gudang mereka dibanding melayani kepentingan umum macam sekarang.

Anak perempuan itu sebenarnya ikut pula berperan memperbarui tujuanku jadi anggota pemadam kebakaran. Dulu aku melakukannya demi uang. Di markas, selain mendapat gaji aku punya tempat untuk membaringkan badan. Setidaknya lepas dari bayangan kelam hidup di kota besar yang tanpa uang dan menggelandang. Setelah kejadian itu motivasiku sontak berubah. Kupikir pekerjaan ini layak dicintai daripada hanya mengutuk dan mengeluhkan segala sesuatu seperti sikap banyak orang.

Sedangkan dia, karibku, adalah seorang yang termasuk beruntung dari sekian segi. Ia berpendidikan, tak pernah terjepit soal keuangan dan punya cukup alasan untuk hidup tenteram. Saat mengetahui jika profesinya tak jauh denganku, sempat tersirat di kepala, pikiran apa yang membuat orang macam dia memerosokkan dirinya jadi relawan?

Awalnya dia bercerita tentang hasrat tak terelakkan mencintai kegiatan menantang. Semenjak sekolah ia akrab dengan organisasi pencinta alam. Aku percaya hal tersebut. Ia bahkan rela bertugas di hari besar macam Lebaran. Hari yang idealnya dilalui bersama keluarga dan orang tercinta. Lebaran tahun lalu aku bahkan sempat menemaninya blusukan di pantai luar kota. Di masa tersebut peluang kecelakaan lebih besar karena jumlah pengunjung berkali lipat.

Kedai di kompleks terminal yang mempertemukan kami beberapa tahun lalu. Dari sering bertemu kami makin akrab. Sesekali kupinjam setumpuk bukunya sebagai pembunuh sepi jika sedang tak ada tugas. Dari buku-buku tersebut aku makin mengenal dunia, tokoh-tokoh hebat serta kisah-kisah menggetarkan. Dia pernah berkata bahwa pengetahuan itu murah di masa sekarang, budi pekertilah yang mahal.

”Kau bisa dapat banyak pengetahuan di internet, warung pinggir jalan, bahkan di sobekan koran bekas, namun kau mungkin akan semakin sukar menemukan orang yang mempraktikkan budi pekerti untuk dicontoh,” ujarnya suatu ketika.

Sebetulnya aku ingin bilang itu adalah omongan terdahsyat dari seorang sahabat yang kerap mabuk bersama-sama, namun urung diucapkan. Kupikir tiap orang tentu punya masa terang diusap cahaya, sedegil apa pun kelakuannya di masa lalu. Berapa kali aku pernah menemui sosok yang dahulu jadi bromocorah, menjadi momok kegelisahan masyarakat sekitar, namun kemudian hidup lebih mulia. Saat kanak-kanak aku paham dia bajingan karena sempat melihat langsung perbuatannya. Sekian puluh tahun kemudian aku bertemu lagi dengannya dalam raut wajah, perkataan, juga sikap yang jauh berbeda. Kuharap orang itu tetap demikian hingga ajal menjemputnya. Sebab konon, satu hari akan sempurna dinilai ketika mentari memang sudah terbenam.

Malam ini adalah malam terberat yang kulalui di awal tahun. Sambil membersihkan seragam kerja dan menempatkan kembali di tempat semula, aku masih membayangkan kejadian berapa jam lalu. Penghuni rumah, yang masih dibekap kecemasan oleh banjir harus menghadapi kejutan hebat lain: lantai dua tempat mereka berlindung terbakar. Tim tentu tak kesulitan mendapatkan air seperti pada kasus-kasus kebakaran sebelumnya. Air melimpah di mana-mana. Penghuni rumah itu yang jelas-jelas dibebat masalah. Sudah jatuh tertimpa tangga.

Kutinggalkan markas menuju kedai yang tak begitu jauh letaknya. Berharap suasana di sana mampu mengupas kelelahan. Sahabatku tengah duduk menyepi di antara meja lain yang gemuruh. Wajahnya tertunduk. Mungkin sudah dirasuki mabuk bercampur kantuk. Dia langsung membalakkan mata saat aku duduk di hadapannya. Tersenyum lebih ramah dari biasa namun terlihat agak kuyu.

”Sudah selesai pesan?” tanyaku. Ia kembali tersenyum dan menunjuk ke arah segelas kopi hitam dengan wajah dan sorot matanya tanpa menjawab pertanyaan.

”Tumben,” timpalku.

”Aku lelah, lelah sekali,” ungkapnya.

”Ya aku tahu. Kau pasti letih beberapa hari ini. Tugasmu tentu bertumpuk dari satu lokasi ke lokasi lain di atas perahu karet.”

”Bukan. Bukan itu sebabnya. Kini aku justru semakin mencintai tugasku karena musibah banjir yang bagai hendak menenggelamkan kota ini. Aku cuma lelah terus-menerus lari dari kenyataan dengan cara mabuk hingga pagi. Aku capek membunuh kecewa pada kehidupan rumah tangga yang berantakan, sementara setelah sadar kenangan perih itu kembali menghantui,” dengan lirih dia berkata.

”Kau tahu, di hari-hari sebelum musim ganas ini tiba, setiap aku menolong anak kecil atau seorang perempuan, sebenarnya aku tengah berhalusinasi sedang menyelamatkan anak dan mantan istriku. Menyelamatkan bahtera keluargaku yang karam. Bukankah itu semacam mengerami dusta?” lanjutnya.

”Entahlah. Kau pasti lebih tahu jawabannya dibanding aku.”

Beberapa saat kami saling hening. Ia terdiam dengan pikirannya sendiri, aku pun membisu karena tak ingin membuatnya kurang nyaman.

”Bang, tolong bikinkan aku kopi hitam macam sobatku ini. Malam ini aku ingin menemani dia ngopi,” pintaku pada pemilik kedai.

Pemilik kedai mengangguk. Tersenyum mafhum dan segera membuatkan pesananku. Mungkin pula seraya berpikir jika malam ini adalah malam paling senyap yang pernah dilewati dua sahabat di tempatnya. Ketika mereka hanya saling diam, tenggelam dalam lautan benak masing-masing tanpa saling bertukar kata.

[1] Nakae Chomin adalah seorang filsuf abad sembilan belas, aktivis, dan cendekiawan Jepang. Satu karyanya yang terkenal ialah Sansuijin Keirin Mondo, Perbincangan Tiga Pemabuk Tentang Pemerintahan (Gramedia 1989) Cianjur, 2013.
 
Karya Trodunahu Ar Raffles, Cerpen ini pernah dimuat di Harian Kompas, edisi 17 November 2013. 

Selasa, 23 Juli 2013

Mentari Penyemangat Hati


Bayang indah terlukis di masa depan
Senyum tawa mereka menghias lepas
Pasca penerimaan calon mahasiswa
Bagiku beda pandang sebab kegagalan

Gelisah, pasrah bercampur jadi satu
Meski di dada penuh harapan baru
Peluang tawarkan tes beasiswa dan kursus gratis
Semua terasa hambar dan datar

Melihat kemampuan diri
Kuragukan semua itu
Tak mau terulang kisah buruk di masa lalu
Meski usaha ringankan beban orang tua

Gagal di saat akhir sekolah
Bertahun menabung tanpa hasil
Hilang percuma, harta orang tua berganti hutang
Demi aku, anak semata wayangnya

Bumi pun siap dipijaki
Meski gempa menyelimuti
Laut pun siap diarungi
Meski badai ombak menghantui

Impian indah kini tenggelam
Di dasar laut pekat gelap-gulita
Tertutup ombak buas menggulung
Di antara indahnya alur awan berjajar

Sesosok putri anggun elok rupanya
Membawa senyum wajah penuh harap
Terlontar pada diriku yang tak berdaya
Penghilang haus di padang tandus

Bisikan halus yang hinggap ketelinga
Perkataan mutiara yang keluar dari bibir manisnya
Meruntuhkan hati yang tak berdaya
Serta mampu merubah segalanya

Mimpi yang tenggelam kembali terbit
Semangat yang hilang kembali bangkit
Lemah, malas berubah menjadi spirit
Engkau bagai Sang Mentari

Melahirkan ombak di pagi hari
Memulangkan nelayan ke rumah kembali
Menghidupkan mimpi yang telah mati
Terimakasih Sang Mentari penyemangat hati

Surabaya, 14 November 2012

Kamis, 20 Desember 2012

الحب العطاء



ما أجـمـل أن نحـيا ســعداء       لا حــقـد يســـود ولا بغـضــاء
أزهــــار الحــــــب تظـلـــلـنا    فـي دنيا تغـمــرها الأنــــداء
نتقـاسم خــبز مـحـبــتـنا ونشد علي أيـــدي الضـــعفاء
للطـير نعـمِّــر أعشــاشـــا         ونرد عـن الكــــون الظــلــماء
نزرع وردا نشعل شــمعا          نعطي نعـطــي فالحــب عطـاء
كن لي سندا كن لي عونا لا تـحــلو الدنــيا دون إخــــــاء
تعريف الشاعر
صالح الهواري، شاعر فلسطيني معاصر ولد في بلدة تسمي (سمح) علي شاطئ بحيرة طبرية عام 1938 م وفاز بالعديد من الجوائز الأدبية .
مناسبة النص :
 يحاول الشاعر أن يبين لنا أن الطريق الوحيد للسعادة في هذه الدنيا هي أن نحيا بالحب والمودة والتعاون بيننا وبين بعضنا, ولهذه كتب هذه القصيدة يعبر عن إحساسه وفكرته.
اللغويات
ما أجمل: أسلوب تعجبمن جمال الحياة × ما أقبح – نحيا: نعيش × نموت - سعداء: مسرورين×  حزاني – حقد: عداوة كراهية شديدة ×مودة (ج) أحقاديسود:       ينتشر × ينحسر- بغضاء: كراهية شديدة × مودة – تظللنا: تغطينا وتشملنا – دنيا: ج دنا ودنياوات × آخرة مذكرها أدني تغمرها: تغطيها × تكشفها – الأنداء: (ج) الندي أي الكرم والجودنتقاسم: نوزع  الخبز - المراد: وسائل الحياة نشد علي أيدي: نعين ونقوي – الضعفاء:من أصابهم الهزال والمرض (م) ضعيفالطير: (ج) طائر – نعمر: نبني × نهدم أعشاش: جمع عش وهو مسكن الطائر- نرد عن: نبعد ونزيل وندفع عن × نجلب ونثبت  - الكون: الوجود و  العالم (ج) أكوان – الظلماء: الظلام والظلمة × الضياء والنور نزرع: نغرس × نحصد ونقلع -        وردا: زهرا نشعل: نوقد ونضيء × نطفئ – سندا: عونا ومساعدا × معوقا
الشرح
يتعجب الشاعر من جمال السعادة فيقول
إن الحياة في سعادة أجمل ما في الوجود لأنها تقضي على الحقد و الكراهية بين الناس.
فالحياة السعيدة ينتشر فيها الكرم والبر وينتشر فيها الحب والمود بين الناس.
ومن سباب الحياة السعيدة أن يتعاون الناس فيما بينهم ويتقاسموا كل شيء في حب ومودة, كما أن من أسباب الحياة السعيدة أن يساعد الأقوياء والأغنياء الضعفاء والفقراء.
وهذه السعادة وهذا الحب لا يقتصر على الإنسان فقط بل يصل إلى الحيوان والطير, فنبني للطيور أعشاشا تعيش فيها بسلام, وعلينا أن ندافع عن الحب ضد أعداء الحياة السعيدة من أهل الظلام.
ويجب علينا أن نعلم بأن الحب هو العطاء والبذل دون انتظار مقابلو فنزرع شجرا ونزرع وردا ونضيء الطرق للناس ولا ننتظر منهم جزاء.
ثم يدعو الشاعر أخاه الإنسان أن يساعده في نشر الحب والسعادة بين البشر, فالحياة السعيدة الجميلة هي التي ينتشر فيها الإخوة والمحبة والسلام.
الجماليات
ما أجمل أن نحيا سعداء: أسلوب تعجب يتمني فيه الشاعر أن يعيش الجميع في سعادة.
لا حقد يسود ولا بغضاء:   أسلوب نفي وكرره الشاعر للتوكيد
                وفيه تشبيه منفي للحقد والبغضاء بإنسان لا يستطيع أن يسود الناس.
سعادة , بغضاء:  تضاد يوضح المعنى ويبرز الفكرة.
يسود : نحيا:              مضارعان للتجدد والاستمرار واستحضار الصورة .
أزهار الحب تظللنا:        تصوير جميل  للحب بحديقة مليئة بالأزهار التي لها ظل.
                        وتصوير للزهرة الصغيرة بالشجرة العظيم التي لها ظل كبير.
تغمرها الأنداء:           تشبيه للجود والكرم بالماء الذي يغمر الأرض .
أزهار – الأنداء:          جمعان للكثرة .             حقد – بغضاء:    نكرتان للتحقير .
نتقاسم خبز محبتنا:        تعبير جميل يدل على المحبة والتعاون بين الناس.
                        تشبيه للمحبة بالخبز ويوحي بأهمية الحب لحياة الناس.
نشد علي أيدي الضعفاء: تعبير جميل يدل على أهمية التعاون والتكافل بين الناس.
الضعفاء :               تفيد العموم والشمول.
للطير نعمر أعشاشا:       أسلوب قصر بتقديم الجار والمجرور غرضه التوكيد والتخصيص
                        وتصوير جميل للعش بالوطن الذي يحتاج من يعمره ويبنيه.
الطير :          توحي بأن الحب ليس مقصورا علي جنس البشر فقط .
نرد عن الكون الظلماء:     تشبيه للظلام بعدو نبعده عن الدنيا
                أسلوب قصر بتقديم الجار والمجرور على المفعول به يفيد التوكيد.
نزرع وردا نشعل شمعا : حسن تقسيم يحدث إيقاع موسيقي جميل.
نعطي نعطي:     تكرار الفعل للتوكيد على ضرورة العطاء والمساعدة للآخرين.
فالحب عطاء:     تعليل لما قبله.
                وتعبير يبين الهدف من الحب وهو البذل دون النظر للمقابل.
كن لي سندا:      أسلوب أمر غرضه الحث والالتماس.
                وتعبير جميل يدل على أهمية التعاون بين البشر.
كن لي سندا كن لي عونا: حسن تقسيم يحدث إيقاعا موسيقيا جميلا.
لي :                    تفيد التخصيص
لا تحلو الدنيا دون إخاء:    تعبير يبين قيمة العطاء والبذل في تجميل الدنيا .
                        أسلوب نفي, ينفي السعادة عن الحياة التي تخلو من الأخوة والحب
تحلو الدنيا :              تشبيه للدنيا بعروس تزداد جمالا يوم زفافها
استخدام  الأفعال المضارعة: للتجدد والاستمرار واستحضار الصورة
استخدام ضمائر الجمع      ليدل علي العموم والشمول ( نحيا – نرد- نزرع - ........)



تدريبات
س: أجب عما يأتي:
ما أجـمـل أن نحـيا ســعداء       لا حــقـد يســـود ولا بغـضــاء
أزهــــار الحــــــب تظـلـــلـنا    فـي دنيا تغـمــرها الأنــــداء
نتقـاسم خــبز مـحـبــتـنا ونشد علي أيـــدي الضـــعفاء
للطـير نعـمِّــر أعشــاشـــا         ونرد عـن الكــــون الظــلــماء
نزرع وردا نشعل شــمعا          نعطي نعـطــي فالحــب عطـاء
كن لي سندا كن لي عونا لا تـحــلو الدنــيا دون إخــــــاء
1-  هات جمع (حقد – دنيا ) ومرادف (يسود – سندا – نعمر - إخاء) وضع ما تأتي به في جمل تامة.
2-  يدعو الشاعر إلى الحب والإخاء والتعاون في الأبيات. بين ذلك.
3-  ما الجمال في قول الشاعر ..
ما أجمل أن نحيا سعداء – نعطي نعطي – كن لي سندا – نتقاسم خبز محبتنا
4- نتقاسم خبز محبتنا ونشد على أيدي الضعفاء
اشرح هذا البيت مبينا كيف يمكن للإنسان أن يتعاون مع أخيه الإنسان.