Jumat, 27 Desember 2013

Kiat Sukses Berbisnis dengan Modal Ekonomis


Dewasa ini dunia bisnis menjadi objek pembahasan yang menarik dalam masyarakat. Banyak instansi perusahaan, komunitas pengusaha, dan lebih utamanya lagi komunitas yang ada di lingkungan kampus seringkali mengadakan pelatihan atau sekadar seminar mengenai dunia bisnis (entreprenuership). Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi solusi akan problem kelangkaan lowongan pekerjaan yang ada di negara kita saat ini. Dengannya kegiatan-kegiatan tersebut, mereka dituntut agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang baru, bukan lagi mencari pekerjaan setelah lulus dari kuliah nanti. 

Namun, untuk menuju semua itu banyak diantara kita yang takut gulung tikar terlebih dahulu sebelum menjalankan bisnis yang kita inginkan. Hal ini sering menjadi momok penghalang kesuksesan dalam menjalankan suatu bisnis. Kita telah gugur sebelum bertempur. Di samping itu, modal yang kecil sering kali menjadi alasan kita untuk menunda atau bahkan membatalkan suatu bisnis yang telah kita impikan beberapa waktu silam. Dua hal inilah yang harus kita tinggalkan jika benar-benar ingin menjadi pengusaha sukses. Sebab, usaha yang dimulai dari “nol” merupakan fondasi yang akan memperkokoh ketika kita menjadi pengusaha yang besar (hal. 5).


Melalui buku 99 Cara Banjir Duit dengan Modal Sedikit, 99 Ide Bisnis di Bawah 10 Juta ini, Fathur Rasyid menantang keberanian kita untuk segera memulai bisnis dengan banyak pilihan yang diberikannya. Lain halnya dengan buku panduan bisnis pada umumnya yang melulu membahas teori tentang dunia bisnis saja, buku ini meyajikan sembilan puluh sembilan menu usaha yang menjanjikan dan membentuknya pun tidak membutuhkan modal yang terlalu besar. Mulai dari usaha makanan, seperti ayam bakar, es krim, bakmi Surabaya, keripik buah, jamu gendong hingga berbagai usaha jasa, seperti studio foto, cuci motor, lukis sepatu, dan lain-lain disajikan dalam buku ini.

Berbagai macam bentuk usaha yang diberikan dalam buku ini dipaparkan dengan apik oleh Fathur Rosyid yang merupakan lulusan Sarjana Ekonomi konsentrasi Manajemen Keuangan dan Perbankan di Universitas Pembangunan “Veteran” Jakarta itu. Tips yang diberikan amat praktis, namun lengkap, disertai bahan baku, prosedur, serta perhitungan finansial yang kita perlukan. Selanjutnya, kondisi pasar dan peluang untuk membuka suatu usaha juga menjadi perhitungan tersendiri dalam ia menyajikan contoh usaha dalam buku ini.
Sekadar contoh, pada usaha Bakmi Surabaya misalnya, peralatan yang dibutuhkan dalam berdagang bakmi Surabaya, diantaranya: gerobak sebagai tempat menyimpan bermacam-macam bahan-bahan masakan, bumbu-bumbu, wajan, kompor gas, dan beberapa tempat untuk meletakkan bahan baku masakan, seperti mie, bihun, kwetiau, nasi, sayuran, dan bahan pelengkap seperti ayam, telur, serta hati.

Proses memasak bakmi, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah memasukkan bawang putih, telur ayam, bumbu-bumbu, sebagaimana kecap ikan dan kecap asin. Semua bahan tersebut di-gongso dengan sedikit minyak hingga baunya harum. Setelah itu, baru memasukkan sayurannya sambil diaduk hingga rata. Kemudian, jika proses itu sudah selesai, maka tambahkan sedikit air, bumbu saus, sedikit penyedap dan diaduk lagi. Terakhir, barulah mie dimasukkan dan ditambah dengan kecap manis serta diaduk lagi hingga matang.

Simulasi keuntungan usaha bakmi Surabaya, dijelaskan dalam buku ini, sebagai berikut: (1) Pemasukan: pemasukan rata-rata per hari Rp 300.000,00. Jadi, omset 1 bulan: 30 x Rp 300.00,00= Rp 9.000.000,00. (2) Pengeluaran per bulan: (1) Belanja bahan masakan: Rp 160.000,00 x 30= 4.800.000,00. (2) Listrik: Rp 50.000,00. (3) Transportasi: Rp 150.000,00. (4) Sewa Tempat: Rp 200.000,00. Jadi, total pengeluaran selama satu bulan adalah Rp 5. 200.000,00. Perlu diingat, ini merupakan sebuah acuan sebagai modal awal, bukan seterusnya seperti ini. Hal ini tergantung bagaimana perkembangan dari usaha bakmi Surabaya tersebut.

Selanjutnya, setelah melakukan pengurangan dari jumlah pemasukan dikurangi dengan jumlah pengeluaran (Rp 9.000.000,00 – Rp 5.200.000,00), kita akan mendapatkan keuntungan Rp 3.800.000,00 setiap bulannya.

Usaha bakmi Surabaya ini cocok dijual dimana saja, tidak hanya di daerah Surabaya saja. Hal ini tidak lepas dari cita rasanya yang khas. Keberadaan rasa pedas di sana menarik perhatian tersendiri di kalangan masyarakat. Sehingga, dengan sendirinya masyarakat tersebut akan tertarik dengan bakmi buatan kita. Selanjutnya, jika usaha bakmi kita itu telah mendapatkan hati masyarakat, kita dapat mengembangkannya dengan berbagai menu yang baru sesuai dengan kreatifitas kita masing-masing (hal. 17-19).

Akhirnya, buku ini sangatlah cocok untuk dibaca, khususnya bagi kita yang ingin mendirikan suatu usaha mulai dari “nol” atau bahkan seorang pengusaha sekaligus. Karena selain contoh di atas, buku ini juga mengulas 98 contoh usaha lain yang diberikan oleh penulis. Yang mana kita bisa mendapatkan pelajaran tentang dunia bisnis (khususnya bisnis dengan modal ekonomis) secara komprehensif. Mulai dari bagaimana cara memilih produk yang akan kita jadikan suatu usaha, cara menganalisis pasar, manajemen keuangan, serta bagaimana caranya mengembangkan usaha tersebut hingga menjadi sebuah usaha yang besar, usaha yang menjanjikan, yaitu usaha yang dapat meraup keuntungan yang melimpah. Selamat membaca dan selamat berusaha.

Judul Buku: 99 Cara Banjir Duit dengan Modal Sedikit, 99 Ide Bisnis di Bawah 10 Juta
Penulis: Fathur Rasyid
Penerbit: FlashBooks, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, September 2013
Tebal: 268 halaman
ISBN: 978-602-255-267-3

Peresensi : Wahyu Eko Sasmito (Mahasiswa UIN Sunan Ampel, Surabaya). Resensi ini pernah dimuat di Eramadina Online, 23 Desember 2013.

Pornografi-pornoaksi, Perusak Moral Bangsa!


Akhir-akhir ini, banyak beredar berita tentang pornografi-pornoaksi di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kasus ini rupanya telah menjamah ke berbagai belahan di penjuru bangsa kita, Indonesia. Dulu, pornografi dan pornoaksi merupakan suatu hal yang sangat tabu bagi bangsa kita, sekarang berubah menjadi hal yang biasa –bahkan menjadi salah satu kebudayaan-- bagi para penggemar “bercinta sebelum nikah” (pacaran). Buktinya, hampir setiap hari media massa selalu menyuguhkan berita tentang kasus ini.

Lebih-kurang sebulan yang lalu, publik, khususnya masyarakat yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dibuat malu dengan sebuah pameran video asusila SMPN 4, Jakarta. Lembaga pendidikan, yang notabene mendidik para siswanya agar menjadi manusia yang berintelektual tinggi, berkarakter dan mertabat, tak mampu membendung perilaku bejat tersebut karena dampak dari pornografi-pornoaksi yang semakin bebas di negara kita saat ini. Bukannya pendidikan karakter itu hanya akan dapat dicapai jika penyampaiannya kepada peserta didik melalui cara dicontohkan (diteladankan), bukan hanya diajarkan? Oleh karena itu, keadaan lingkungan dari peserta didik sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan karakter tersebut. 

Selanjutnya, beberapa minggu yang lalu, kota Surabaya juga digemparkan oleh perilaku bejat dari seorang ibu rumah tangga yang melampiaskan nafsunya kepada para pelajar. Mulai dari anak SD, SMP dan SMA. Sebagaimana diberitakan, ibu ini bernama Maslikah (34). Meski dia telah mempunyai suami dan dikarunia dua anak, dia sering melakukan perbuatan bejat ini, sampai-sampai lupa sudah berapa dia melakukannya. Di samping itu, satuan polisi yang melakukan razia ke beberapa hotel yang berada di berbagai daerah di Indonesia, juga berhasil menjaring banyak pasangan (tanpa ada ikatan nikah) melakukan perbuatan asusila. Sungguh ironis bukan?  

Masyarakat Indonesia, yang notabene masyarakat Timur, acapkali dianggap sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Dengan seketika, kini telah berubah bak masyarakat Barat yang dianggap oleh publik sebagai lambang pengumbaran nafsu seksual secara bebas tanpa norma dan susila. Hal ini terjadi tidak lain karena kasus pornografi dan pornoaksi yang semakin lama semakin menjalar di negara kita ini.

Istilah pornografi jika dilacak pengertiannya secara etimologis berasal dari Yunani kuno “porne” yang berarti wanita jalang, dan “graphos” yang artinya gambar atau lukisan. Sedangkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pornografi diartikan sebagai: (1) penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau untuk membangkitkan nafsu birahi, mempunyai kecenderungan merendahkan kaum wanita; (2) bahan yang dirancang dengan sengaja dan semata-mata untuk membangkitkan nafsu seks.

Beberapa istilah yang seringkali dikaitkan dengan pornografi diantaranya adalah pornokitsch yang bermakna selera rendah; obscenity yang bermakna kecabulan, keji dan kotor, tindak senonoh, melanggar kesusilaan dan kesopanan. Sedangkan, pengertian pornoaksi adalah perwujudan melalui suatu tindakan dari hal-hal yang terkandung maknanya dalam pornografi tersebut (Anita Widarti sebagaimana dikutip oleh Kutbuddin Aibak, 2009).

Berawal dari pengertian tersebut, dapat kita simpulkan bahwasanya pornografi dan pornoaksi merupakan perbuatan yang tercela dan sangat tidak patut untuk dipraktikkan dalam peradaban bangsa ini. Selebihnya, sebagai bangsa yang besar, yang terlanjur dikenal oleh manca negara sebagai bangsa yang adib (beradab dan bermoral), seharusnya kita selalu mempertahankan serta menunjukkan kekonsistenan kita dalam berperilaku yang sopan, santun, ramah-tamah dan bermoral kepada mereka. Bukan malah sebaliknya, mengikuti peradaban Barat yang dapat merusak moral asli bangsa kita sendiri.      
  
Pornografi dan pornoaksi ini memberikan dampak yang buruk terhadap kelangsungan peradaban bangsa kita. Pornografi-pornoaksi selain akan membuat pikiran kita berorientasi pada hal-hal yang berbau seks, juga akan menggiring pada perubahan tata nilai. Nilai-nilai religus akan tergusur dan kepedulian masyarakat terhadap nilai-nilai sosial akan semakin melemah. Padahal, nilai-nilai tersebut sangat berpengaruh besar terhadap perubahan ke arah yang lebih baik dan bermartabat pada suatu susunan sosial (bangsa dan negara). Bagaimanakah keadaan bangsa ini sepuluh atau bahkan setahun lagi jika masyarakatnya apatis terhadap nilai-nilai sosial dan religius?

Lebih parahnya lagi, pornografi dan pornoaksi tersebut dapat merubah perilaku yang mulanya mengutamakan intelektualitas dan budaya tinggi berupa kreativitas dan kasih sayang berganti menjadi budaya rendahan seperti seks dan beberapa perbuatan buruk lainnya. Hal inilah yang menyebabkan pornografi dan pornoaksi dapat merusak atau bahkan menghancurkan moral dari suatu bangsa.

Oleh: Wahyu Eko Sasmito, Akademisi di Fakultas Adab (Sastra dan Humanior), UIN Sunan Ampel, Surabaya. Tulisan ini pernah dimuat di Duta Masyarakat: 3 Desember 2013.