Sabtu, 03 Mei 2014

Kisah Cinta Para ODHA


Judul Buku: Dengan Hati
Penulis: Syafrina Siregar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Kedua, November 2013
Tebal: 280 Halaman
ISBN: 978-979-22-9998-4
Peresensi: Wahyu Eko Sasmito, Mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel, Surabaya

Setiap tanggal 1 Desember, masyarakat dunia memperingatinya sebagai hari AIDS sedunia. Tentu masih segar di benak kita tentang bagaimana peringatan hari AIDS bulan lalu. Banyak komunitas yang peduli HIV/AIDS mengadakan aksi turun jalan di beberapa kota besar pada hari itu. Secara bersama-sama, mereka mensosialisasikan kepada masyarakat luas agar mereka tidak lagi memiliki perspektif buruk dan mendiskriminasasikan secara berlebihan kepada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Selama ini, masyarakat kita cenderung lebih mendiskriminasikan ODHA daripada segala perbuatan yang dapat menimbulkan ODHA itu sendiri, seperti menggunakan jarum suntik secara bergantian dalam memakai obat-obatan terlarang, sering bergonta-ganti pasangan dalam berhubungan seksual, dlsb.

Dengan Hati merupakan sebuah novel yang lahir karena rasa keprihatinan penulis serta berbagai macam laporan dari teman-temannya terkait tentang tindakan diskriminasi terhadap para ODHA. Mereka sering mendapatkan cacian, hinaan dan bahkan mendekatinya pun masyarakat merasa enggan. Karena selama ini perspektif masyarakat terhadap penyakit AIDS itu merupakan sebuah penyakit “kutukan” akibat dari perbuatan yang menjijikkan dari si penderita penyakit AIDS tersebut. Padahal, perspektif seperti ini belum tentu benar, karena penyakit AIDS juga dapat terjadi karena faktor keturunan dan penularan.

Melalui Dengan Hati, Syafrina Siregar, selain sebagai penulis novel, juga pernah berkecimpung secara langsung dalam pekerjaan yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS berusaha untuk memberikan pembelajaran kepada para pembaca tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia HIV/AIDS. Beberapa kejadian yang disajikan dalam novel ini mampu memberikan wawsan baru bagi kita semua yang masih awam dengan dunia HIV/AIDS. Bahasa yang digunakan pun cukup sederhana dan mudah dipahami serta alur yang mengalir begitu saja menjadikan novel ini sangat nikmat untuk dibaca.

Mengambil latar belakang isu HIV/AIDS, Dengan Hati bercerita tentang persahabatan Mila dan Santi melewati berbagai masalah terkait dengan isu ini selama mereka bekerja di WorldCare. WorldCare merupakan sebuah organisasi nonprofit yang mendapat dana dari pemerintah Amerika untuk menangani program mengenai isu HIV/AIDS di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia (hlm 19).

Mereka berdua selalu bersama, mulai dari hal bekerja hingga sekadar shoping, jalan-jalan dan makan pun mereka selalu bersama. Mereka ini ibarat amplop surat dan perangko. Maklum karena mereka memiliki nasib yang sama, yaitu tidak komplitnya lagi keluarga mereka. Sejak kelas enam SD, Mila sudah ditinggal mati oleh ibunya dan sekarang hanya tinggal bersama ayahnya Prof. Dr. dr. Zakaria, SpOG, pembantunya bik Isah dan Fani anak dari bik Isah, sedangkan Santi yang selalu hidup sendiri hingga ia bekerja di Medan sekarang ini. Tapi, persahabatan ini sempat terputus sejenak karena sifat keras kepalanya Mila (belum bisa menerapkan semua teori menanggulangi ODHA, meski ia telah mengetahuinya) ketika ia mengetahui bahwa Santi itu HIV positif. Dan dari sinilah, Mila baru menyadari bahwa Santi hidup sendiri selama ini karena ia dibenci oleh seluruh keluargannya kecuali adiknya, Reza.

Bagi Mila, Santi merupakan seorang teman sekaligus kakak. Setiap permasalahan yang tengah dihadapinya kemudian disaringkan kepada Santi selalu melahirkan sebuah penyelesaian. Kecuali satu permasalahan, yaitu masalah cintanya kepada Ian Weber (bos di WorldCare yang berasal dari Wasington, Amerika). Meski berulangkali Santi mengatakan kepada Mila bahwa Ian juga cinta kepadannya, Mila selalu mengelak malu-malu. Hal ini diketahui Santi dari sorot matanya Ian yang lain dari biasanya setiap kali ia bertemu dengan Mila. Akhirnya, keduanya hanya saling memendam rasa cintanya di dalam diri mereka masing-masing.

Suatu ketika, Mila memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Ian. Ia sengaja pulang paling akhir dari bekerja agar dapat bertemu dengan Ian secara langsung, berdua tiada yang lainnya. Tapi, ketika ia mau keluar dari pintu ruang kerjanya, ia melihat Ian bersama seorang gadis cantik berambut kecokelatan digandeng dengan mesranya. Mereka pun akhirnya bertemu, kemudian Ian mengenalkan gadis tersebut kepada Mila. Gadis itu namanya Charlie, ia berasal dari Chicago. Seketika itu, hati Mila sangat teriris dan dirinya dipenuhi dengan perasaan amarah.

Setelah kejadian itu, hari-hari Mila tak lagi seceria seperti sebelumnya. Beberapa pikiran negatif pun muncul, kenapa ia pada waktu rapat evaluasi kerja selama setahun menyetujui acara barbekyu diadakan dirumahnya? Bagaimana kalau gadis berambut cokelat itu hadir bersama Ian pada acara tersebut? Mau ditaruh mana mukaku ini? dan beberapa pikiran aneh lainnya.

Acara barbekyu pun tiba. Seharian penuh Mila, Santi, Lina (Sekretaris Bos), Bik Isah, Fani dan Dini mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan dalam acara tersebut. Pada pukul delapan malam tepat, acara bakar-bakar pun dimulai, tiba-tiba teriakan orang minta tolong dari arah dapur terdengar keras di telinga para tamu. Dini, yang hamil di luar nikah dan ditinggalkan oleh kekasihnya karena ia telah mengecewakannya (tidak memberitahukan bahwa dirinya mengidap HIV positif) mengalami pendarahan, dia tidak tahu kalau kandungannya sudah mencapai usia kelahiran, karena selama ini ia tak pernah periksa kepada dokter terkait masalah kandungannya. Bukan masalah ia tak mau, tapi semua dokter yang didatanginya selalu menolaknya karena ia seorang HIV positif.

Melihat kejadian tersebut, Dr. Zakaria langsung membawa Dini ke Rumah Sakit tempat ia bekerja untuk menjalani operasi sesar. Mila sebagai seorang anak perasaannya bercampur-aduk, antara rela dan tidak tega. Bagaimana kalau ayahnya tercinta itu meninggal karena terinfeksi virus HIV saat mengoperasi Dini? Mila pun akhirnya hanya bisa pasrah dan murung di alam kamar.

Keesokan harinya Mila menjenguk Dini ke Rumah Sakit. Alhamdulillah, Dini dan anaknya sehat semua. Dini merasa senang memiliki teman baik seperti Mila ditambah lagi kekasihnya yang dulu meninggalkannya, kini telah insaf dan kembali kepadanya lagi. Setelah itu, Mila langsung pergi ke kosnya Santi untuk memberikan kabar baik ini sekalian mengajaknya pergi jalan-jalan. Tapi setelah sampai disana, ditemuilah Mila dengan wajah Santi yang pucat dan lemas. Akhirnya, Mila pun membawa Santi ke Rumah Sakit tempat bekerja ayahnya. Santi pun disarankan untuk menjalani rawat inap karena kondisinya sangat lemas dan tidak memungkinkan jika dibawa pulang.

Keesokan harinya Dr. Zakaria mendapat telepon dari Rumah Sakit bahwa Santi telah meninggal dunia. Kabar ini pun disampaikan Dr. Zakaria kepada Mila. Dan seketika, Mila kaget tak percaya. Mila pun akhirnya bergegas untuk menghubungi keluarga Santi yang ada di Jogja. Tapi apa tanggapannya? mereka tak ada yang datang sampai jenazah Santi selesai dimakamkan. Kecuali hanya Reza yang mau datang, itu pun ketika jenazah Santi sudah dimakamkan beberapa hari sebelumnya.

Sepeninggalnya Santi, Mila tak punya teman curhat lagi mengenai permasalahannya, terutama masalah cintanya kepada Ian, yang sampai sekarang belum juga terkabulkan. Suasana kantor pun berubah menjadi hampa, tak ada lagi canda-tawa diantara keduanya. Kondisi ini mengakibatkan Mila merasa bosan dan ingin segera keluar dari WorldCare.

Saat Mila akan pulang dari kerja, tiba-tiba Charlie datang menghampirinya. Katanya ia datang  dari Chicago tanpa sepengetahuan Ian. Kemudian ia pun mengajak Mila untuk makan di Pagaruyung sekaligus membicarakan masalah hubungan Ian dengan Mila. Kedatangannya kali ini untuk menyatukan mereka berdua, tapi, kata Charlie hubungan diantara mereka terdapat suatu penghalang yang membuat Ian tak pernah mengutarakan cintanya kepada Mila. Mila mencoba untuk memahami perkataan Charlie, tapi sampai akhir pembicaraan pun Mila tak mendapatkan pemahaman. Dan akhirnya pulang dengan membawa segembol pertanyaan.

Untuk memperjelas pembicaraan tersebut, akhirnya Mila memberanikan diri untuk mendatangi Ian di apartemennya secara langsung. Ketika sampai di depan pintu kamarnya Ian, Mila ragu karena terdengar suara lembut dari seorang gadis, tentu suara itu suaranya Charlie. Namun, akhirnya dia terpaksa masuk ke kamar juga karena ketahuan petugas keamanan dari apartement tersebut. Pada saat inilah terjadi kejadian yang sangat menegangkan. Charlie dengan getolnya meminta Ian untuk segera megunkapkan isi hatinya kepada Mila, tapi Ian terus membentak Charlie tiada henti. Diam Charlie! Begitupun dengan Charlie, ia tak mau menyerah merayu Ian agar segera mengungkapkan perasaannya. Akhirnya Ian pun menyeletuk, “Aku HIV positif Mila”. Ungkapan itu membuat Charlie kaget dan perginya Mila meninggalkan kamar tersebut.

Kini hati Mila bimbang, berusaha mencari jawaban untuk diutarakan kepada Ian. Ia juga meminta pendapat kepada Dr. Zakaria. Dan, Dr. Zakaria pun diliputi dengan rasa kebingungan memilih untuk memasrahkan jawabannya kepada Mila, karena ia merasa, Mila sudah mengetahui segala konskuensinya memiliki pasangan seorang ODHA. Akhirnya, keesokan harinya, ketika ia pergi ngantor, ia langsung menuju ke ruangannya Ian untuk menyatakan cinta kepada Ian sekalian dengan menyodorkan surat pengunduran dirinya jika cintanya tidak diterima oleh Ian. Karena ia telah mantab dengan pemikirannya, yaitu nilai manusia terletak pada karakter dan akal budi, bukan status kesehatan atau sosial. Semua ini hanya dapat dilakukan “Dengan Hati”, karena dengan hatilah semua akan lebih mudah dijalani. Dan sore harinya, Ian datang ke rumahnya Mila untuk melamarnya kepada Dr. Zakaria. Sekian!

Peresensi: Wahyu Eko Sasmito adalah Mahasiswa UIN Sunan Ampel, Surabaya. Resensi ini pernah dimuat di media online Rimanews.com, 14 Januari 2014.

Kunci Sukses Menghadapi Kesulitan Hidup


Judul buku: Buku Saku Rahasia Kebahagiaan: Bekal Spiritual Orang Beriman Menghadapi Kesulitan Hidup
Penulis: Ibnu Qadhib al-Ban
Penerjemah: Fauzi Faisal Bahreisy
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2013
Tebal Buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-1687-04-8
Peresensi: Wahyu Eko Sasmito, Mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel, Surabaya

Sebagaimana kita ketahui, hidup di dunia ini takkan pernah statis melainkan dinamis. Selalu berputar dan berganti. Tidak selamanya kita diliputi kesenangan dan kebahagiaan. Tapi, sesekali kita juga akan dirudung kesedihan dan kemiskinan. Keadaan seperti ini akan selalu silih berganti dalam kehidupan kita sehari-hari karena semuanya merupakan ujian dari Tuhan. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Kami menguji kalian dengan kebaikan dan keburukan sebagai cobaan” (Al-Anbiya’: 35).

Dalam menghadapi ujian tersebut, setiap orang memiliki cara dan perspektif yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang menyimpang dari syari’at dan bahkan menyekutukan Allah tatkala mendapatkan musibah. Akan tetapi, ada pula yang semakin mendekatkan diri kepada Allah tatkala musibah menghampiri hidupnya. Hal ini tergantung seberapa beningnya pikiran dan seberapa bersihnya jiwa kita dalam menyikapi musibah tersebut.

Melalui buku setebal 192 halaman ini, Ibnu Qadhib al-Ban menghimpun berbagai hikmah dan riwayat, mulai dari ayat-ayat Al-Quran, hadis Nabi Muhammad SAW, perkataan para Sahabat, Tabi’in sampai pada para ilmuan muslim terkemuka seperti Ibnu Athaillah, Imam al-Ghozali dan lain sebagainya.

Selebihnya, di dalam menjabarkan hikmah atau riwayat tersebut, Sayyid Abdullah ibn Sayyid Muhammad al-Hijazi (nama asli dari Ibnu Qadhib al-Ban) selalu menyelipkan kisah-kisah inspiratif yang sesuai dengan tema permasalahan. Sehingga ketika kita membacanya, saat itu juga, seolah-olah kita diajak untuk merasakan secara langsung kejadian tersebut di dunia nyata. Hal inilah yang menjadikan buku ini sangat menarik untuk dibaca.

Sekumpulan kalam hikmah, riwayat dan beragam kisah inspiratif tersebut, secara garis besar menerangkan bagaimana caranya meraih kesuksesan dalam menghadapi beragam kesulitan hidup yang kita hadapi sehari-hari. Arti dari kesuksesan di sini bukan sekadar kesuksesan yang berbentuk materi (tercapainya keinginan atau impian) saja, melainkan kesuksesan yang bersifat hakiki. Yakni, tercapainya kesuksesan di dunia maupun akhirat. Kesuksesan yang mampu memberikan ketenangan jiwa, hati serta meningkatkan ketakwaan seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.

Misalnya, kisah Bazrajamhar yang dipenjarakan oleh Anusyirwan karena ia sering mengkritik kepemimpinannya (hlm. 29-31). Meski Bazrajamhar dipenjara di tempat yang sempit, gelap, serta hanya dikasih makan tidak lebih dari dua piring dan segelas air, ia tetap kelihatan bahagia. Hal ini membuat Anusyirwan menjadi tambah geram sekaligus penasaran. Akhirnya, ia pun memerintahkan pengawalnya untuk mencari tahu rahasia apa yang membuat Bazrajamhar tetap bahagia di tengah siksaan yang ia berikan.

Para pengawal itu pun akhirnya mendatangkan beberapa sahabat Bazrajamhar agar menanyakan perihal rahasia kebahagianya tersebut. Dari sinilah, rahasia itu dapat diketahui. Ternyata Bazrajamhar memiliki formula bahagia tersendiri untuk menghadapi beragam kesulitan hidupnya. Formula itu terdiri dari enam resep yang sangat mujarab, yaitu : Pertama, adalah yakin kepada Allah. Kedua, berprasangka baik kepada Allah dan yakin bahwa segala yang ditetapkan-Nya pasti terjadi. Ketiga, menjaga kesabaran. Keempat, menunjukkan rasa papa dan tidak berdaya. Kelima,  memperhatikan musibah lebih besar yang menimpa orang lain. Keenam, menantikan jalan keluar setiap waktu”.

Keenam resep di atas itulah yang dapat kita jadikan kunci untuk membuka pintu kesuksesan hakiki pada setiap musibah atau kesulita hidup yang kita hadapi. Dengan yakin kepada Allah, semua urusan yang kita hadapi akan dipermudah oleh-Nya. Karena semua yang terjadi di bumi ini datangnya dari Allah dan Dia pula yang mengahirinya. Untuk itu, sebagai bentuk konsekuensinya, kita harus bertawakal kepada-Nya. Wujud tawakal adalah menerima bagian yang telah ditetapkan untuk diri kita dan tak merisaukannya. Al-Imam al-Jawad r.a. berkata, “Siapa yang yakin kepada Allah, pastia Dia perlihatkan kegembiraan kepadanya. Siapa yang bertawakal kepada Allah, pasti Dia cukupi semua urusannya.”

Berprasangka baik kepada Allah merupakan konsekuensi yang berikutnya. Hal ini dapat kita wujudkan dengan mengingat karunia yang telah Allah anugerahkan kepada kita serta terus menantikan kebaikan yang akan Dia berikan. Karena hanya dengan berprasangka baik kepada-Nyalah kita akan mampu melihat hikmah atas musibah yang kita hadapi. Sebaliknya, jika kita berprasangka buruk kepada-Nya, yang ada jiwa dan perasaan kita akan dipenuhi amarah, gelisah, dan kekesalan kepada Allah, kemudian kita menuduh-Nya telah berbuat buruk kepada diri kita. Akibatnya, kita sering jatuh dalam kegelisahan dan putus asa ketika semua impian dan keinginan tidak terwujudkan. Kemudian kesedihan itu terus berlarut hingga akhirnya kita kesulitan melepaskan diri dari penderitaan dan cenderung lebih banyak melanggar dan berbuat dosa karena tidak bisa berprasangka baik kepada Allah.

Sabar merupakan senjata terbaik untuk menghadapi semua ujian. Sabar merupakan sumber kelapangan hati dan tangga untuk meraih tujuan (hlm 66). Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bersama kemenangan ada kesabaran, bersama kesempitan ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

Berdo’a juga menjadi suatu keharusan ketika musibah menimpa diri kita. Karena do’a dapat merubah kadar (ketentuan) Allah. Do’a seorang hamba akan segera terkabulkan jika dalam berdo’a kepada Allah menunjukkan sikap papa dan tak berdaya kepada-Nya. Perlu diketahui, bahwasanya Allah itu mengabulkan do’a kita sesuai dengan kehendak dari-Nya, bukan kehendak dari kita. Bisa jadi apa yang kita anggap baik bagi diri kita itu jelek di mata Allah, dan begitu juga sebaliknya.

Untuk itu, lebih baik kita pasrah menerima keputusan dari-Nya kemudian bersabar dan seraya melihat musibah lebih besar yang menimpa orang lain agar kita mampu menerima semuanya dengan penuh keikhlasan dan keridoan. Di samping itu, kita harus senantiasa menantikan jalan keluar yang akan diberikan oleh Allah kepada diri kita. Namun, bukan berarti kita harus berpangku tangan, melainkan juga dibarengi dengan usaha yang baik. Yaitu usaha yang tidak melanggar norma-norma sosial dan agama. Karena sebaik-baik tawakal adalah yang dibarengi dengan usaha. Dengan demikian, jiwa dan perasaan kita akan merasa lebih tenang dan tidak penuh dengan kerisauan dikala menghadapi berbagai macam kesulitan.

Alhasil, buku ini sangatlah cocok untuk kita baca khususnya bagi yang tengah dirudung masalah dan selalu berlarut-larut di dalamnya. Karena, buku ini tidak hanya menjelaskan tentang bagaimana membentuk formula bahagia sebagai kunci meraih kesuksesan dalam menghadapi kesulitan saja. Tapi, buku ini juga menyuguhkan beragam kumpulan do’a pelipur lara sekaligus menerangkan tentang bagaimana caranya do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allah akan segera dikabulkan. Selamat membaca!  

Peresensi: Wahyu Eko Sasmito, Mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel, Surabaya. Resensi ini pernah dimuat di Wasathon.com, 14 April 2014.

Selasa, 18 Maret 2014

Pluralisme: Antara Rhoma dan Gus Dur


Akhir-akhir ini, masyarakat khususnya para pemerhati politik tengah dihebohkan dengan perkataan sang raja dangdut, Rhoma Irama. Pasalnya, saat menjadi narasumber pada acara talk show di Studio Orange Kompas TV, Palmerah, Jakarta, Selasa (7/1/2014), Rhoma mengatakan bahwa dirinya tidaklah bersebrangan dengan Gus Dur.

Katanya, dia sama seperti Gus Dur, sama-sama mendukung pluralisme. Kalimat ini dilontarkan Rhoma semata-mata sebagai jawaban atas pernyataan putri Gus Dur, Yenny Wahid, yang sebelumnya pernah mengatakan bahwa sosok Rhoma itu berseberangan dengan Gus Dur (Kompas.com, 8/1/2014).
Kedua pandangan tersebut jelas memunculkan kontroversi di masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari keterkaitannya dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 mendatang.

Terlebih lagi, raja dangdut, Rhoma Irama ini menjadi salah satu kandidat bakal calon presiden yang dilirik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menjadikan perkataannya tersebut semakin menyulut bara kecurigaan dari masyarakat, khususnya para pemerhati politik. Apakah benar, Rhoma Irama itu sama dengan Gus Dur dalam mendukung pluralisme? Atau, hanya pencitraan belaka?

Terlepas dari perihal tersebut, alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pluralisme itu sendiri. Pluralisme adalah suatu paham atau pandangan hidup yang mengakui dan menerima adanya “kemajemukan” atau “keanekaragaman” dalam suatu kelompok masyarakat.

Menerima kemajemukan berarti menerima adanya perbedaan. Menerima perbedaan bukan berarti menyamaratakan, tetapi justeru mengakui bahwa ada hal atau ada hal-hal yang tidak sama. Dan, kemajemukan atau keanekaragaman dalam konteks negara Indonesia misalnya dilihat dari segi agaman, suku, ras, adat-istiadat, bahasa dan lain-lain.

Dalam tulisan kali ini, penulis tidak akan membicarakan tentang diterima atau tidaknya pluralisme di masyarakat kita. Karena pembahasan mengenai perihal tersebut sudah banyak dibahas sebelumnya. Mulai dari buku, artikel atau opini telah banyak membahas keberadaan pluralisme di masyarakat Indonesia ini.
Untuk itu, pada kesempatan kali ini penulis tak lagi membahas perihal tersebut, melainkan akan membahas tentang perbedaan antara pluralisme Rhoma Irama dan sang guru bangsa, Gus Dur.

Secara esensial, Gus Dur di dalam mempraktikkan paham pluralisme itu secara total. Maksudnya, dia benar-benar ikhlas melakukannya. Tanpa ada sesuatu pun yang diharapkan dari hal tersebut, kecuali hanya ridho dari-Nya.

Menurut kacamata Gus Dur, pluralisme merupakan sebuah sarana untuk memanusiakan manusia. Maksudnya, dengan sifat pluralisnyalah Gus Dur itu dapat menyayangi semua manusia dari beranekaragam agama, ras, suku, bangsa dan beberapa perbedaan lainnya tanpa ada sekat kebencian sedikit pun. Hal ini merupakan sebuah pengaktualisasian sifat rahman dan rokhim-Nya pada diri Gus Dur

Gus Dur selalu ingin memandang manusia, siapa pun dia dan di mana pun dia berada, sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Tuhan menghormatinya, Gus Dur juga ingin menghormatinya. Sebagaimana Tuhan mengasihi makhluk-Nya, Gus Dur juga ingin mengasihinya. “Takhallqu bi Akhlaq Allah” (berakhlaklah dengan akhlak Allah), kata pepatah sufi. 

Dengan alasan itulah yang menjadi kunci pokok dari pluralisme Gus Dur. Karena segala sesuatu yang dilakukan oleh beliau, baik itu salat, zikir, zakat, tahlilan, ziarah kubur, dan beberapa amalan ibadah lainnya semata-mata hanya sebagai wasilah untuk penyingkapan dan persaksian dengan-Nya (Nur Khalik Ridwan, dalam Suluk Gus Dur: Bilik-bilik Spiritual Sang Guru Bangsa: 2013).

Sedangkan pluralisme ala Rhoma, semata-mata hanya sebagai sarana pencitraan belaka. Sebagai sarana untuk mendulang suara pada pilpres 2014 mendatang. Mengingat dirinya menjadi salah satu kandidat bakal calon presiden yang dilirik PKB, hal ini menjadi jalan pintas bagi Rhoma untuk menarik simpati para pengagum Gus Dur di seluruh atau saentero Indonesia untuk mendukung dirinya.

Hal ini juga dilakukan oleh para calon legislatif (caleg) dari partai yang sama, yaitu dengan serentak mengampanyekan dirinya dengan slogan “meneruskan perjuangan Sang Guru Bangsa”. Padahal, pada tahun 2012 lalu, pada musim pemilihan Gubernur DKI Jakarta, dia sempat berurusan dengan Panwaslu Jakarta karena ceramahnya yang bernada SARA karena dinilai menghina pasangan calon Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama. Kala itu, Basuki Tjahaja menjadi pemancing munculnya hinaan tersebut karena ia dari golongan nonmuslim.

Selanjutnya, Gus Dur tak pernah mengatakan bahwa dirinya itu pluralisme. Masyarakatlah yang menyematkan gelar Bapak Pluralissme pada dirinya. Beliau juga tak banyak bicara soal wacana pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan dan memberi mereka contoh atasnya.
Pluralisme jauh lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Hal ini berbanding terbalik dengan Rhoma, ia dengan getolnya menyebut dirinya mendukung pluralisme. Tetapi dalam praktik kesehariannya ia tak menampakkan sifat pluralis nempel pada dirinya.

Kiranya, perlu diingat bahwa Gus Dur itu bersifat pluralis setiap hari, di mana dan kapan pun ia berada, tidak hanya menjelang pemilu saja.

Akhirnya, meminjam bahasanya guru tarekat sathariyah, Kyai Hasan Ulama’, Ojo demen nyunggi katoke mbahe, amal sholeh tindakno. Maksudnya, kita sebagai penerus bangsa jangan terlalu membanggakan dan mengandalkan kebesaran tokoh kita terdahulu. Tapi yang terpenting adalah sepak terjang kita dalam realita kehidupan berbangsa saat ini, meneladani apa yang telah dilakukan oleh para petinggi-petinggi bangsa kita terdahulu. Bukankah perbuatan itu lebih menghasilkan hal yang nyata ketimbang ucapan?

Oleh: Wahyu Eko Sasmito, Aktivis di Gerakan UIN Sunan Ampel Surabaya Menulis (GISAM). Tulisan ini pernah dimuat di Banjarmasin Post: 16 Januari 2014.