Sabtu, 03 Mei 2014

Teori Strukturalisme Naratologi

A.    Pendahuluan
Teori sastra, khususnya sejak awal abad ke-20 berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini dengan sendirinya sejajar dengan terjadinya kompleksitas kehidupan manusia, yang kemudian memicu perkembangan genre sastra. Kemajuan dalam bidang teknologi informasi menopang sarana dan prasarana penelitian yang secara keseluruhan membantu memberikan kemudahan dalam proses pelaksanaannya. Fungsi utama karya sastra adalah untuk melukiskan, mencerminkan kehidupan manusia, sedangkan kehidupan manusia itu sendiri selalu mengalami perkembangan. Dalam hubungan inilah diperlukan genre dan teori sastra yang berbeda untuk memahaminya.

Setiap karya sastra pasti memiliki cerita. Ceritalah yang menjadi tiang penyangga sebuah karya sastra, tanpa cerita dan penceritaan mungkin tak akan ada rekaman aktivitas kultural. Pernyataan ini sejalan dengan visi sastra kontemporer yang memandang bahwa sebagai seni waktu, penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural, dengan pertimbangan bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya.

 Berkaitan dengan masalah konsep cerita dan penceritaan dalam suatu karya sastra itu termasuk dalam kajian naratologi. Yang mana, hal tersebut akan penulis bahas dalam makalah ini. Mulai dari pengertian, tokoh-tokoh, dan beberapa hal lain yang berkaitan dengan strukturalisme naratologi tersebut.

B.     Strukturalisme Naratologi
Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme  antar hubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, di pihak yang lain hubungan antara unsur dengan totalitasnya. Hubungan tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian, dan kesepahaman, tetapi juga bisa negatif, seperti konflik dan pertentangan.

Istilah struktur sering dikacaukan dengan sistem. Definisi dan ciri-ciri sruktur sering disamakan dengan definisi dan ciri-ciri sistem. Secara etimologis struktur berasal dari kata structura (Latin), berati bentuk, bangunan, sedangkan sistem berasal dari kata systema (Latin), berarti cara. Struktur dengan demikian menunjuk pada kata benda, sedangkan sistem menunjuk pada kata kerja. Pengertian-pengertian struktur yang telah digunakan untuk menunjuk unsur-unsur yang membentuk totalitas pada dasarnya telah mengimplikasikan keterlibatan sistem. Artinya, cara kerja sebagaimana ditunjukkan oleh mekanisme antar hubungan sehingga terbentuk totalitas adalah sistem. Dengan kalimat lain, tanpa keterlibatan sistem, maka unsur-unsur hanyalah agregasi.

Dalam buku Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra dijelaskan bahwa naratologi berasal dari kata narration (bahasa Latin, berarti cerita, perkataan, kisah, hikayat) dan logos (ilmu). Naratologi disebut juga teori wacana (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Sementara struktur naratif fiksional adalah rangkaian peristiwa yang di dalamnya terkandung unsur-unsur lain, seperti: tokoh-tokoh, latar, sudut pandang dan sebagainya. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa, sastra dan budaya, yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek humaniora. Untuk kajian naratologi, teori sastra kontemporer telah memberikan cakupan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Selain novel, roman, dan cerpen, dalam cakupan tersebut termasuk juga puisi naratif, dongeng, biografi, lelucon, mitos, epik, catatan harian, dan sebagainya. (Ratna, 2004: 128-130) 
Mieke Bal (Hudayat, 2007) menyebutkan bahwa narator atau agen naratif didefinisikan sebagai pembicara dalam teks, subjek secara linguistik, bukan person, bukan pengarang. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. 
Dalam pengkajiannya, naratologi diberikan kebebasan, maksudnya naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra, melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. Sebuah novel dianggap sebagai sebuah totalitas suatu karya yang secara menyeluruh bersifat atristik sebagai teks naratif. Chatman membagi unsur struktur naratif menjadi dua bagian yaitu cerita dan wacana. Unsur cerita adalah apa yang ingin dilukiskan dalam teks naratif itu, sedang wacana adalah bagaimana cara melukiskanya (Nurgiyantoro, 2002: 26). Unsur cerita terdiri dari peristiwa dan wujud keberadaanya, eksistensinya. Peristiwa itu sendiri dapat berupa aksi (peristiwa yang berupa tindakan manusia) dan kejadian (peristiwa yang bukan hasil tindakan manusia). Dalam wujud eksisteninya unsur cerita terdiri dari tokoh dan latar. Wacana dipihak lain, merupakan saran untuk mengungkapkan isi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan mengenai konsep naratologi, yakni naratologi merupakan cabang dari strukturalisme yang mempelajari struktur naratif dan bagaimana struktur tersebut mempengaruhi persepsi pembaca. Kajian naratologi dapat digunakan untuk mengkaji karya sastra, seperti novel, roman, cerita pendek, puisi naratif, dongeng, biografi, lelucon, mitos, epik, catatan harian, dan sebagainya. Naratologi berasumsi bahwa, cerita adalah tulang punggung karya sastra. Di sisi lain, cerita juga berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Secara historis, menurut Marie-Laureryan dan Van Alphen (Makaryk, ed., 1990: 110-114), naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode sebagai berikut:
1. Periode prastrukturalis (-hingga tahun 1960-an)
2. Periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an)
3. Periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang)
  
C.    Tokoh-Tokoh Strukturalisme Naratologi
Beberapa tokoh strukturalisme naratologi yang terkenal adalah sebagai berikut:
a)      Vladimir Lakovlevich Propp
Propp (1985-1970) dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif, sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi febula dan sjuzhet (cerita dan plot). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat, seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas pada tahun 1958. Propp (1987) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Artinya, dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah, tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. 

Menurut Propp (1987: 24-27; cf. Scholes, 1977: 60-73; junus, 1988: 62-72), dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh, melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut sebagai fungsi. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen), unit terkecil yang membentuk tema.
b)     Claude Levi-Strauss
Claude Levi Strauss, seorang antropolog melakukan pendekatan yang hampir sama dengan Vladimir Propp. Meskipun demikian, menurut Scholes (1977: 59-70; cf. Junus, 1988: 64-65) keduanya tetap berbeda. Pertama, apabila Propp memberikan perhatian pada cerita, Levi Strauss lebih banyak memberikan perhatian pada mitos. Kedua, apabila Propp menilai cerita sebagai kualitas estetis, Levi Strauss menilainya sebagai kualitas logis. Ketiga, apabila Propp menggunakan konsep fungsi sebagai istilah kunci, atas dasar asumsi linguistik seperti phone dan phoneme, Levi Strauss mengembangkan istilah myth dan mytheme. Keempat, berbeda dengan Propp yang memberikan perhatian pada naratif individual, Levi-Strauss memberikan perhatian terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng, baik secara bulat maupun fragmentaris. Menurutnya, mitos adalah naratif itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu.

c)      Tzevetan Tadorov
Tzvetan Todorov. Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan sjuzhet, Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Dalam menganalisis tokoh-tokoh, Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi, yaitu: kehendak, komunikasi, dan partisipasi. Menurutnya, objek formal puitika bukan interpretasi atau makna, melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek, yaitu (1) aspek sintaksis, meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis, (2) aspek semantik, berkaitan dengan makna dan lambang, meneliti tema, tokoh, dan latar, dan (4) aspek verbal, meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang, gaya bahasa, dan sebagainya.

d)     Algirdas Julien Greimas
Algridas Julien Greimas adalah seorang ahli sastra yang berasal dari Perancis. Sebagai seorang penganut teori struktural, ia telah berhasil mengembangkan teori strukturalisme menjadi strukturalisme naratif dan memperkenalkan konsep satuan naratif terkecil dalam karya sastra yang disebut aktan. Teori ini dikembangkan atas dasar analogi-analogi struktural dalam Linguistik yang berasal dari Ferdinand de Saussure, dan Greimas menerapkan teorinya dalam dongeng atau cerita rakyat Rusia. 
 
 Aktan adalah sesuatu yang abstrak seperti cinta, kebebasan, atau sekelompok tokoh. Pengertian aktan dihubungkan dengan satuan sintaksis naratif, yaitu unsur sintaksis yang mempunyai fungsi– fungsi tertentu. Fungsi itu sendiri dapat diartikan sebagai satuan dasar cerita yang menerangkan tindakan bermakna yang membentuk narasi. Aktan dalam teori Greimas menempati enam fungsi, yaitu (1) subjek, (2) objek, (3) pengirim atau sender , (4) penerima atau receiver , (5) penolong atau helper, dan (6) penentang atau opposant. Keenam fungsi aktan yang juga dapat disebut sebagai tiga pasangan oposisional tersebut, apabila disusun dalam sebuah skema dapat digambarkan sebagai berikut. (Jabrohim, 1996:13)

Pengirim    >      Objek      <     Penerima

Penolong   >      Subjek       <  Penentang

Tanda panah dalam skema menjadi unsur penting yang menghubungkan fungsi sintaksis naratif masing-masing aktan. Adapun penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pengirim (sender) adalah seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber ide dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Sender ini yang menimbulkan keinginan bagi subjek untuk mendapatkan objek.
2. Penerima (receiver) adalah sesuatu atau seseorang yang menerima objek hasil perjuangan subjek.
3. Subjek adalah seseorang atau sesuatu yang ditugasi oleh sender  untuk mendapatkan objek yang diinginkannya.
4. Objek adalah seseorang atau sesuatu yang diinginkan atau dicari oleh subjek.
 5. Penolong (helper) adalah seseorang atau sesuatu yang membantu memudahkan usaha subjek dalam mendapatkan objek sebagai keinginannya.
6. Penghalang (opposant) adalah seseorang atau sesuatu yang menghalangi usaha atau perjuangan subjek dalam mendapatkan objek.
7. Tanda panah dari sender yang mengarah pada objek mengandung arti bahwa dari sender  ada keinginan untuk mendapatkan objek. Tanda panah dari objek ke receiver mengandung arti bahwa sesuatu yang dicari subjek atas keinginan sender diberikan pada receiver.
8. Tanda panah dari helper ke subjek mengandung arti bahwa helper memberikan bantuan kepada subjek dalam rangka menunaikan tugas yang dibebankan oleh sender. Tanda panah dari opposant  ke subjek mengandung arti bahwa opposant mengganggu, menghalangi, menentang dan merusak usaha subjek.
9. Tanda panah subjek ke objek mengandung arti subjek bertugas menemukan objek yang dibebankan oleh sender.

e)      Shlomith Rimmon-Kenan
Rimmon Kenan (1983: 1-5) berpendapat bahwa wacana naratif meliputi keseluruhan kehidupan manusia. Menurutnya, teks adalah wacana yang diucapkan atau ditulis apa yang dibaca. Dan,  narration adalah tindak atau proses produksi yang mengimplikasikan seseorang, baik sebagai fakta maupun fiksi yang mengucapkan atau menulis wacana. Meskipun demikian, ia hanya mencurahkan perhatiannya pada wacana naratif fiksi. Oleh karena itulah, ia mendefinisikan fiksi naratif sebagai urutan peristiwa fiksional. Berbeda dengan narasi lain, fiksi dengan demikian mensyaratkan:
a) proses komunikasi, proses naratif sebagai pesan yang ditransmisikan oleh pengirim kepada penerima, dan
b) struktur verbal medium yang digunakan untuk mentransmisikan pesan.

D.    Kesimpulan
Naratologi sering disebut juga dengan teori wacana teks naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Naratologi mempunyai asumsi bahwa, cerita adalah tulang punggung dari suatu karya sastra. Di sisi lain, cerita juga berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Secara garis besar, konsep dari naratologi dalam meneliti suatu karya sastra, yakni mengkajinya dari sudut pandang cerita (naration)-nya. Mempelajari struktur naratif dan bagaimana struktur tersebut mempengaruhi persepsi pembaca. Dengan kata lain, naratologi adalah usaha untuk mempelajari sifat ‘cerita’ sebagai konsep dan sebagai praktek budaya. Diantara tokoh naratologi yang terkenal, yaitu: Vladimir Lakovlevich Propp, Claude Levi-Strauss, Tzevetan Tadorov, Algirdas Julien Greimas, dan Shlomith Rimmon-Kenan.

DAFTAR PUSTAKA

Jabrohim. 1996. Pasar dalam Perspektif Greimas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Junus, Umar. 1988. Karya Sebagai Sumber Makna: Pengantar Strukturalisme. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Sastra. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kisah Cinta Para ODHA


Judul Buku: Dengan Hati
Penulis: Syafrina Siregar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Kedua, November 2013
Tebal: 280 Halaman
ISBN: 978-979-22-9998-4
Peresensi: Wahyu Eko Sasmito, Mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel, Surabaya

Setiap tanggal 1 Desember, masyarakat dunia memperingatinya sebagai hari AIDS sedunia. Tentu masih segar di benak kita tentang bagaimana peringatan hari AIDS bulan lalu. Banyak komunitas yang peduli HIV/AIDS mengadakan aksi turun jalan di beberapa kota besar pada hari itu. Secara bersama-sama, mereka mensosialisasikan kepada masyarakat luas agar mereka tidak lagi memiliki perspektif buruk dan mendiskriminasasikan secara berlebihan kepada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Selama ini, masyarakat kita cenderung lebih mendiskriminasikan ODHA daripada segala perbuatan yang dapat menimbulkan ODHA itu sendiri, seperti menggunakan jarum suntik secara bergantian dalam memakai obat-obatan terlarang, sering bergonta-ganti pasangan dalam berhubungan seksual, dlsb.

Dengan Hati merupakan sebuah novel yang lahir karena rasa keprihatinan penulis serta berbagai macam laporan dari teman-temannya terkait tentang tindakan diskriminasi terhadap para ODHA. Mereka sering mendapatkan cacian, hinaan dan bahkan mendekatinya pun masyarakat merasa enggan. Karena selama ini perspektif masyarakat terhadap penyakit AIDS itu merupakan sebuah penyakit “kutukan” akibat dari perbuatan yang menjijikkan dari si penderita penyakit AIDS tersebut. Padahal, perspektif seperti ini belum tentu benar, karena penyakit AIDS juga dapat terjadi karena faktor keturunan dan penularan.

Melalui Dengan Hati, Syafrina Siregar, selain sebagai penulis novel, juga pernah berkecimpung secara langsung dalam pekerjaan yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS berusaha untuk memberikan pembelajaran kepada para pembaca tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia HIV/AIDS. Beberapa kejadian yang disajikan dalam novel ini mampu memberikan wawsan baru bagi kita semua yang masih awam dengan dunia HIV/AIDS. Bahasa yang digunakan pun cukup sederhana dan mudah dipahami serta alur yang mengalir begitu saja menjadikan novel ini sangat nikmat untuk dibaca.

Mengambil latar belakang isu HIV/AIDS, Dengan Hati bercerita tentang persahabatan Mila dan Santi melewati berbagai masalah terkait dengan isu ini selama mereka bekerja di WorldCare. WorldCare merupakan sebuah organisasi nonprofit yang mendapat dana dari pemerintah Amerika untuk menangani program mengenai isu HIV/AIDS di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia (hlm 19).

Mereka berdua selalu bersama, mulai dari hal bekerja hingga sekadar shoping, jalan-jalan dan makan pun mereka selalu bersama. Mereka ini ibarat amplop surat dan perangko. Maklum karena mereka memiliki nasib yang sama, yaitu tidak komplitnya lagi keluarga mereka. Sejak kelas enam SD, Mila sudah ditinggal mati oleh ibunya dan sekarang hanya tinggal bersama ayahnya Prof. Dr. dr. Zakaria, SpOG, pembantunya bik Isah dan Fani anak dari bik Isah, sedangkan Santi yang selalu hidup sendiri hingga ia bekerja di Medan sekarang ini. Tapi, persahabatan ini sempat terputus sejenak karena sifat keras kepalanya Mila (belum bisa menerapkan semua teori menanggulangi ODHA, meski ia telah mengetahuinya) ketika ia mengetahui bahwa Santi itu HIV positif. Dan dari sinilah, Mila baru menyadari bahwa Santi hidup sendiri selama ini karena ia dibenci oleh seluruh keluargannya kecuali adiknya, Reza.

Bagi Mila, Santi merupakan seorang teman sekaligus kakak. Setiap permasalahan yang tengah dihadapinya kemudian disaringkan kepada Santi selalu melahirkan sebuah penyelesaian. Kecuali satu permasalahan, yaitu masalah cintanya kepada Ian Weber (bos di WorldCare yang berasal dari Wasington, Amerika). Meski berulangkali Santi mengatakan kepada Mila bahwa Ian juga cinta kepadannya, Mila selalu mengelak malu-malu. Hal ini diketahui Santi dari sorot matanya Ian yang lain dari biasanya setiap kali ia bertemu dengan Mila. Akhirnya, keduanya hanya saling memendam rasa cintanya di dalam diri mereka masing-masing.

Suatu ketika, Mila memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Ian. Ia sengaja pulang paling akhir dari bekerja agar dapat bertemu dengan Ian secara langsung, berdua tiada yang lainnya. Tapi, ketika ia mau keluar dari pintu ruang kerjanya, ia melihat Ian bersama seorang gadis cantik berambut kecokelatan digandeng dengan mesranya. Mereka pun akhirnya bertemu, kemudian Ian mengenalkan gadis tersebut kepada Mila. Gadis itu namanya Charlie, ia berasal dari Chicago. Seketika itu, hati Mila sangat teriris dan dirinya dipenuhi dengan perasaan amarah.

Setelah kejadian itu, hari-hari Mila tak lagi seceria seperti sebelumnya. Beberapa pikiran negatif pun muncul, kenapa ia pada waktu rapat evaluasi kerja selama setahun menyetujui acara barbekyu diadakan dirumahnya? Bagaimana kalau gadis berambut cokelat itu hadir bersama Ian pada acara tersebut? Mau ditaruh mana mukaku ini? dan beberapa pikiran aneh lainnya.

Acara barbekyu pun tiba. Seharian penuh Mila, Santi, Lina (Sekretaris Bos), Bik Isah, Fani dan Dini mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan dalam acara tersebut. Pada pukul delapan malam tepat, acara bakar-bakar pun dimulai, tiba-tiba teriakan orang minta tolong dari arah dapur terdengar keras di telinga para tamu. Dini, yang hamil di luar nikah dan ditinggalkan oleh kekasihnya karena ia telah mengecewakannya (tidak memberitahukan bahwa dirinya mengidap HIV positif) mengalami pendarahan, dia tidak tahu kalau kandungannya sudah mencapai usia kelahiran, karena selama ini ia tak pernah periksa kepada dokter terkait masalah kandungannya. Bukan masalah ia tak mau, tapi semua dokter yang didatanginya selalu menolaknya karena ia seorang HIV positif.

Melihat kejadian tersebut, Dr. Zakaria langsung membawa Dini ke Rumah Sakit tempat ia bekerja untuk menjalani operasi sesar. Mila sebagai seorang anak perasaannya bercampur-aduk, antara rela dan tidak tega. Bagaimana kalau ayahnya tercinta itu meninggal karena terinfeksi virus HIV saat mengoperasi Dini? Mila pun akhirnya hanya bisa pasrah dan murung di alam kamar.

Keesokan harinya Mila menjenguk Dini ke Rumah Sakit. Alhamdulillah, Dini dan anaknya sehat semua. Dini merasa senang memiliki teman baik seperti Mila ditambah lagi kekasihnya yang dulu meninggalkannya, kini telah insaf dan kembali kepadanya lagi. Setelah itu, Mila langsung pergi ke kosnya Santi untuk memberikan kabar baik ini sekalian mengajaknya pergi jalan-jalan. Tapi setelah sampai disana, ditemuilah Mila dengan wajah Santi yang pucat dan lemas. Akhirnya, Mila pun membawa Santi ke Rumah Sakit tempat bekerja ayahnya. Santi pun disarankan untuk menjalani rawat inap karena kondisinya sangat lemas dan tidak memungkinkan jika dibawa pulang.

Keesokan harinya Dr. Zakaria mendapat telepon dari Rumah Sakit bahwa Santi telah meninggal dunia. Kabar ini pun disampaikan Dr. Zakaria kepada Mila. Dan seketika, Mila kaget tak percaya. Mila pun akhirnya bergegas untuk menghubungi keluarga Santi yang ada di Jogja. Tapi apa tanggapannya? mereka tak ada yang datang sampai jenazah Santi selesai dimakamkan. Kecuali hanya Reza yang mau datang, itu pun ketika jenazah Santi sudah dimakamkan beberapa hari sebelumnya.

Sepeninggalnya Santi, Mila tak punya teman curhat lagi mengenai permasalahannya, terutama masalah cintanya kepada Ian, yang sampai sekarang belum juga terkabulkan. Suasana kantor pun berubah menjadi hampa, tak ada lagi canda-tawa diantara keduanya. Kondisi ini mengakibatkan Mila merasa bosan dan ingin segera keluar dari WorldCare.

Saat Mila akan pulang dari kerja, tiba-tiba Charlie datang menghampirinya. Katanya ia datang  dari Chicago tanpa sepengetahuan Ian. Kemudian ia pun mengajak Mila untuk makan di Pagaruyung sekaligus membicarakan masalah hubungan Ian dengan Mila. Kedatangannya kali ini untuk menyatukan mereka berdua, tapi, kata Charlie hubungan diantara mereka terdapat suatu penghalang yang membuat Ian tak pernah mengutarakan cintanya kepada Mila. Mila mencoba untuk memahami perkataan Charlie, tapi sampai akhir pembicaraan pun Mila tak mendapatkan pemahaman. Dan akhirnya pulang dengan membawa segembol pertanyaan.

Untuk memperjelas pembicaraan tersebut, akhirnya Mila memberanikan diri untuk mendatangi Ian di apartemennya secara langsung. Ketika sampai di depan pintu kamarnya Ian, Mila ragu karena terdengar suara lembut dari seorang gadis, tentu suara itu suaranya Charlie. Namun, akhirnya dia terpaksa masuk ke kamar juga karena ketahuan petugas keamanan dari apartement tersebut. Pada saat inilah terjadi kejadian yang sangat menegangkan. Charlie dengan getolnya meminta Ian untuk segera megunkapkan isi hatinya kepada Mila, tapi Ian terus membentak Charlie tiada henti. Diam Charlie! Begitupun dengan Charlie, ia tak mau menyerah merayu Ian agar segera mengungkapkan perasaannya. Akhirnya Ian pun menyeletuk, “Aku HIV positif Mila”. Ungkapan itu membuat Charlie kaget dan perginya Mila meninggalkan kamar tersebut.

Kini hati Mila bimbang, berusaha mencari jawaban untuk diutarakan kepada Ian. Ia juga meminta pendapat kepada Dr. Zakaria. Dan, Dr. Zakaria pun diliputi dengan rasa kebingungan memilih untuk memasrahkan jawabannya kepada Mila, karena ia merasa, Mila sudah mengetahui segala konskuensinya memiliki pasangan seorang ODHA. Akhirnya, keesokan harinya, ketika ia pergi ngantor, ia langsung menuju ke ruangannya Ian untuk menyatakan cinta kepada Ian sekalian dengan menyodorkan surat pengunduran dirinya jika cintanya tidak diterima oleh Ian. Karena ia telah mantab dengan pemikirannya, yaitu nilai manusia terletak pada karakter dan akal budi, bukan status kesehatan atau sosial. Semua ini hanya dapat dilakukan “Dengan Hati”, karena dengan hatilah semua akan lebih mudah dijalani. Dan sore harinya, Ian datang ke rumahnya Mila untuk melamarnya kepada Dr. Zakaria. Sekian!

Peresensi: Wahyu Eko Sasmito adalah Mahasiswa UIN Sunan Ampel, Surabaya. Resensi ini pernah dimuat di media online Rimanews.com, 14 Januari 2014.

Kunci Sukses Menghadapi Kesulitan Hidup


Judul buku: Buku Saku Rahasia Kebahagiaan: Bekal Spiritual Orang Beriman Menghadapi Kesulitan Hidup
Penulis: Ibnu Qadhib al-Ban
Penerjemah: Fauzi Faisal Bahreisy
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2013
Tebal Buku: 192 halaman
ISBN: 978-602-1687-04-8
Peresensi: Wahyu Eko Sasmito, Mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel, Surabaya

Sebagaimana kita ketahui, hidup di dunia ini takkan pernah statis melainkan dinamis. Selalu berputar dan berganti. Tidak selamanya kita diliputi kesenangan dan kebahagiaan. Tapi, sesekali kita juga akan dirudung kesedihan dan kemiskinan. Keadaan seperti ini akan selalu silih berganti dalam kehidupan kita sehari-hari karena semuanya merupakan ujian dari Tuhan. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Kami menguji kalian dengan kebaikan dan keburukan sebagai cobaan” (Al-Anbiya’: 35).

Dalam menghadapi ujian tersebut, setiap orang memiliki cara dan perspektif yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang menyimpang dari syari’at dan bahkan menyekutukan Allah tatkala mendapatkan musibah. Akan tetapi, ada pula yang semakin mendekatkan diri kepada Allah tatkala musibah menghampiri hidupnya. Hal ini tergantung seberapa beningnya pikiran dan seberapa bersihnya jiwa kita dalam menyikapi musibah tersebut.

Melalui buku setebal 192 halaman ini, Ibnu Qadhib al-Ban menghimpun berbagai hikmah dan riwayat, mulai dari ayat-ayat Al-Quran, hadis Nabi Muhammad SAW, perkataan para Sahabat, Tabi’in sampai pada para ilmuan muslim terkemuka seperti Ibnu Athaillah, Imam al-Ghozali dan lain sebagainya.

Selebihnya, di dalam menjabarkan hikmah atau riwayat tersebut, Sayyid Abdullah ibn Sayyid Muhammad al-Hijazi (nama asli dari Ibnu Qadhib al-Ban) selalu menyelipkan kisah-kisah inspiratif yang sesuai dengan tema permasalahan. Sehingga ketika kita membacanya, saat itu juga, seolah-olah kita diajak untuk merasakan secara langsung kejadian tersebut di dunia nyata. Hal inilah yang menjadikan buku ini sangat menarik untuk dibaca.

Sekumpulan kalam hikmah, riwayat dan beragam kisah inspiratif tersebut, secara garis besar menerangkan bagaimana caranya meraih kesuksesan dalam menghadapi beragam kesulitan hidup yang kita hadapi sehari-hari. Arti dari kesuksesan di sini bukan sekadar kesuksesan yang berbentuk materi (tercapainya keinginan atau impian) saja, melainkan kesuksesan yang bersifat hakiki. Yakni, tercapainya kesuksesan di dunia maupun akhirat. Kesuksesan yang mampu memberikan ketenangan jiwa, hati serta meningkatkan ketakwaan seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.

Misalnya, kisah Bazrajamhar yang dipenjarakan oleh Anusyirwan karena ia sering mengkritik kepemimpinannya (hlm. 29-31). Meski Bazrajamhar dipenjara di tempat yang sempit, gelap, serta hanya dikasih makan tidak lebih dari dua piring dan segelas air, ia tetap kelihatan bahagia. Hal ini membuat Anusyirwan menjadi tambah geram sekaligus penasaran. Akhirnya, ia pun memerintahkan pengawalnya untuk mencari tahu rahasia apa yang membuat Bazrajamhar tetap bahagia di tengah siksaan yang ia berikan.

Para pengawal itu pun akhirnya mendatangkan beberapa sahabat Bazrajamhar agar menanyakan perihal rahasia kebahagianya tersebut. Dari sinilah, rahasia itu dapat diketahui. Ternyata Bazrajamhar memiliki formula bahagia tersendiri untuk menghadapi beragam kesulitan hidupnya. Formula itu terdiri dari enam resep yang sangat mujarab, yaitu : Pertama, adalah yakin kepada Allah. Kedua, berprasangka baik kepada Allah dan yakin bahwa segala yang ditetapkan-Nya pasti terjadi. Ketiga, menjaga kesabaran. Keempat, menunjukkan rasa papa dan tidak berdaya. Kelima,  memperhatikan musibah lebih besar yang menimpa orang lain. Keenam, menantikan jalan keluar setiap waktu”.

Keenam resep di atas itulah yang dapat kita jadikan kunci untuk membuka pintu kesuksesan hakiki pada setiap musibah atau kesulita hidup yang kita hadapi. Dengan yakin kepada Allah, semua urusan yang kita hadapi akan dipermudah oleh-Nya. Karena semua yang terjadi di bumi ini datangnya dari Allah dan Dia pula yang mengahirinya. Untuk itu, sebagai bentuk konsekuensinya, kita harus bertawakal kepada-Nya. Wujud tawakal adalah menerima bagian yang telah ditetapkan untuk diri kita dan tak merisaukannya. Al-Imam al-Jawad r.a. berkata, “Siapa yang yakin kepada Allah, pastia Dia perlihatkan kegembiraan kepadanya. Siapa yang bertawakal kepada Allah, pasti Dia cukupi semua urusannya.”

Berprasangka baik kepada Allah merupakan konsekuensi yang berikutnya. Hal ini dapat kita wujudkan dengan mengingat karunia yang telah Allah anugerahkan kepada kita serta terus menantikan kebaikan yang akan Dia berikan. Karena hanya dengan berprasangka baik kepada-Nyalah kita akan mampu melihat hikmah atas musibah yang kita hadapi. Sebaliknya, jika kita berprasangka buruk kepada-Nya, yang ada jiwa dan perasaan kita akan dipenuhi amarah, gelisah, dan kekesalan kepada Allah, kemudian kita menuduh-Nya telah berbuat buruk kepada diri kita. Akibatnya, kita sering jatuh dalam kegelisahan dan putus asa ketika semua impian dan keinginan tidak terwujudkan. Kemudian kesedihan itu terus berlarut hingga akhirnya kita kesulitan melepaskan diri dari penderitaan dan cenderung lebih banyak melanggar dan berbuat dosa karena tidak bisa berprasangka baik kepada Allah.

Sabar merupakan senjata terbaik untuk menghadapi semua ujian. Sabar merupakan sumber kelapangan hati dan tangga untuk meraih tujuan (hlm 66). Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bersama kemenangan ada kesabaran, bersama kesempitan ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

Berdo’a juga menjadi suatu keharusan ketika musibah menimpa diri kita. Karena do’a dapat merubah kadar (ketentuan) Allah. Do’a seorang hamba akan segera terkabulkan jika dalam berdo’a kepada Allah menunjukkan sikap papa dan tak berdaya kepada-Nya. Perlu diketahui, bahwasanya Allah itu mengabulkan do’a kita sesuai dengan kehendak dari-Nya, bukan kehendak dari kita. Bisa jadi apa yang kita anggap baik bagi diri kita itu jelek di mata Allah, dan begitu juga sebaliknya.

Untuk itu, lebih baik kita pasrah menerima keputusan dari-Nya kemudian bersabar dan seraya melihat musibah lebih besar yang menimpa orang lain agar kita mampu menerima semuanya dengan penuh keikhlasan dan keridoan. Di samping itu, kita harus senantiasa menantikan jalan keluar yang akan diberikan oleh Allah kepada diri kita. Namun, bukan berarti kita harus berpangku tangan, melainkan juga dibarengi dengan usaha yang baik. Yaitu usaha yang tidak melanggar norma-norma sosial dan agama. Karena sebaik-baik tawakal adalah yang dibarengi dengan usaha. Dengan demikian, jiwa dan perasaan kita akan merasa lebih tenang dan tidak penuh dengan kerisauan dikala menghadapi berbagai macam kesulitan.

Alhasil, buku ini sangatlah cocok untuk kita baca khususnya bagi yang tengah dirudung masalah dan selalu berlarut-larut di dalamnya. Karena, buku ini tidak hanya menjelaskan tentang bagaimana membentuk formula bahagia sebagai kunci meraih kesuksesan dalam menghadapi kesulitan saja. Tapi, buku ini juga menyuguhkan beragam kumpulan do’a pelipur lara sekaligus menerangkan tentang bagaimana caranya do’a-do’a yang kita panjatkan kepada Allah akan segera dikabulkan. Selamat membaca!  

Peresensi: Wahyu Eko Sasmito, Mahasiswa di Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel, Surabaya. Resensi ini pernah dimuat di Wasathon.com, 14 April 2014.