Sabtu, 03 Mei 2014

Kajian Puisi Al-Farazdaq

A. Pendahuluan 

Bila berbicara tentang kesusastraan pada masa Bani Umaiyah, maka berbagai referensi akan membahas tiga penyair besar masa itu, yaitu al-Farazdaq, Jarirdanal-Akhtal. Ketiganya hidup semasa bahkan terlibat dalam dialog-satiris dalam puisi-puisi hija’ yang terus berlanjut hingga al-Akhtal meninggal di tahun (w. 92 H/ 710 M), al-Farazdaq di tahun 110 H/ 728 M, dan disusul enam bulan kemudian oleh Jarir di tahun yang sama. Para penyair ini, hidup pada zaman yang tepat dan pas untuk mengeksplorasikan kemampuan mereka dalam membuat syi’ir hijja’. Situasi sosial politik masa Bani Umaiyah yang berbeda dengan masa sebelumnya, diduga menjadi faktor pendukung yang baik bagi perkembangan sastra, khususnya bagi penyair ketiga tokoh ini. Dinasti yang berpusat di Dam6askus ini, memberikan keluasan bagi para penyair untuk mengekspresikan talenta sastra dengan munculnya partai-partai politik, mazhab dan sekte, masalah identitas kebangsaan. Namun di balik permasalahan makro tersebut, ketiga penyair memiliki permasalahan mikro, yaitu permasalahan pribadi yang melibatkan ketiganya dalam verbal contest yang tiada berakhir.
Dalam makalah ini, penulis akan mencoba untuk membahas tentang salah satu dari tiga tokoh penyair terkemuka di zaman Bani Umaiyah tersebut, yaitu al-Farazdaq. Muali dari biografinya, contoh syi’irnya, makna yang terkandung dalam syi’irnya, uslub-uslub balaghoh yang terdapat dalam syi’irnya, dan beberapa permasalahan yang lainnya.

B.     Biografi al-Farazdaq

Nama lengkapnya yaitu Abu Faris Hammam bin Gholib at-Tamimi lahir di Yamamah (Arab Timur), suatu tempat dekat Basroh pada masa akhir pemerintahan Umar bin Khatab. Ia berasal dari sub-suku Mujasyi dari klan Bani Tamim, dibesarkan dari keluarga terdidik dan mulia yang nantinya banyak tergambar dalam puisi-puisinya. al-Farazdaq memiliki talenta berpuisi sejak usia masih kecil. Puisinya dinilai kaya dengan ungkapan-ungkapan indah, diksi terpilih dan unik, dan memiliki kedalaman makna serta cenderung mengikuti gaya puisi Jahiliyah yang murni. al-Farazdaq terkadang bersifat “gila” dan berani, seperti syi’ir dan perseteruannya dengan Jarir (penyair dekat seorang tirani, al-Hajjaj) yang telah menjadi perbincangan selama berabad-abad. Kekayaan kosakata al-Farazdaq membuat kritikus Arab terdahulu berkata, “Jika syi’ir-syi’ir al-Farazdaq tidak ada, sepertiga bahasa arab akan hilang”. Diwan-nya mengandung ribuan sajak, termasuk pujian, sindiran dan rintihan. al-Farazdaq meninggal tahun 110 H di Basroh.

C.     Contoh Puisi Al-Farazdaq dan Kondisi Teksnya

Pada masa Bani Umaiyah, kembalilah sifat fanatisme kesukuan yang terdiri atas berbangga-bangga terhadap nenek moyang dan keturunan mereka. Beberapa pertempuran (saling mengolok-olok) antara suku yang satu dengan yang lainnya kian merajalela, terutama yang terjadi pada penyair terkemuka pada zaman ini, diantaranya Jarir, al-Farazdaq, al-Akhtal, dan lainnya.
Para penyair ini menghasilkan syi’ir-syi’ir yang mengumpulkan antara al-fakhro (الفخر) dan hija’ (الهجاء) yang disebut dengan an-Naqooidh (النقائض).
Syair berikut ini menggambarkan pertikaian antara al-Farazdaq dengan Jarir. Syair ini didahului dengan prolog al-Farazdaq yang membanggakan kaumnya, kemudian baru menyerang Jarir dan sukunya.

إنَّ الذى سَمَكَ السَمَاءَ بَنَى لَنَا#  بَيْتًا دَعَائِمُـهُ أَعَزُ وأَطْـوَلُ
بَيْـتًا بَنَاهُ لَنَا الملِيكُ, ومــــــــــا بَنَى#  حَكَمُ السمَاء فَإِنَّهُ لا يُنْقَلُ
بَيْتًا زُرَارَةُ مُحْتَبٍ بِفِنَائِــــــــهِ#  ومُجَاشِعُ, و أَبُو الفَوارسِ نَهْشَلُ
لا يَحْتَبِى بِفِنَاءِ بَيْتِكَ مِثْلُهُمْ# أَبَدًا إِذَا عُدَّ الْفَعَالُ الأَفْضَلُ
ضَرَبَتْ عَلَيْكَ الْعَنْكَبوتُ بِنَسْجِهَا #    و قَضَى عَليْكَ بِهِ الْكِتَابُ المنزَلُ
و إذا بَذَخْتُ فرايِتَي يَمْشِي بِهَــــــــا #    سُفْيَانُ, أو عُدُسُ الفَعَالِ, و جَنْدَلُ
الأكْثَرُونَ إذَا يُعَدُّ حَصَاهُمُ#    والأكْرَمـونَ إذا يُعَدُّ الأَوَّلُ
إِنَّ الزِحَامَ لِغَيْرِكم, فَتَرقَّبُوا        #    وِرْدَ العَشِيِّ, إليْه يَخْلُو الْمَنْهَلُ
أَحْلامُنَا تَزِنُ الْجِبَالَ زَرَانَةً#    وتَخَالُنَا جِنًا إذا ما نَجْهَلُ
فادْفَعْ بكَفِّكَ إِنْ أردْتَ بنَاءنَا      #    ثَهْلانَ ذا الهَضَبَاتِ هَل يَتَحَلْحَلْ؟

v    المفردات
-        سمك: رفع
-        الدّعائم: الأعمدة التى تقيم البيت و المفرد دعامة
-        أعز: أقوى
-        المليك: اللّه
-        زرارة, مجاشع, نهشل: من أجداد الفرزدق
-        محتب: جالس, و هو من الاحتباء, و هو أن يجمع الرجل بين ظهره و ساقيه بثوب أو غيره
-        الفعال الأفضل: الفعل الحسن
-        ضربت عليك العنكبوت: نسجت أو بنت عليك
-        قضى: حكم
-        بذخت: فخرت
-        سفيان و عدس الفعال و جندل: رجال من قوم الفرزدق
-        يعد حصاهم: يحصى عددهم الأول: أسبق الناس في الكرم
-        الزحام: التزاحم عند ورود الماء
-        لغيرهم: المراد الأقوياء
-        ورد العشي: ورد الماء لقيلا بعد أن ينصرف الناس
-        المنهل: مورد الماء
-        أحلامنا: عقولنا
-        تزن الجبال: تساويها
-        رزانة: ثباتا
-        نجهل: نغصب
-        ثهلان: جبل عظيم بنجد
-        الهضبات: القمم العالية
-        هل يتحلحل: هل يتحرك

D.    Makna dan Maksud dari Syair Al-Farazdaq

1.      Sesungguhnya Allah yang mengangkat langit  dan yang telah memberikan kita kemuliaan lebih kuat dan besar dari segala kemuliaan.
2.      Kemuliaan ini merupakan ciptaan Allah dzat yang mengangkat langit, dan apa-apa yang dibangun oleh Allah tidak akan lemah dan hancur.
3.      Dan di pelataran kemuliaan ini hiduplah nenek moyang yang besar, diantaranya Zararah, Majasyi’, dan Nahsyal.
4.      Tidak ada di kaummu wahai Jarir seperti mereka yang pemberani, dimana kamu bisa berbangga-bangga dengan mereka.
5.      Maka kamu dari rumah yang lemah seperti rumah laba-laba, dimana Allah menjadikannya permisalan dalam kelemahan di dalam firman-Nya.
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka Mengetahui”. (QS: Al-‘Ankabuut: 41).
6.      Jika aku berbangga-bangga wahai Jarir, maka sesungguhnya kami berbangga-bangga dengan nenek moyang yang mulia, seperti Sufyan (سفيان), ‘Udus al-fa’aali (عدس الفعال) dan Jandal (جندل).
7.      Dan mereka adalah orang yang paling banyak bilangannya dan lebih dahulu menuju pada kemuliaan.
8.      Adapun kaummu wahai Jarir, sesungguhnya mereka itu lemah. Dan bukti jika mereka itu lemah adalah ketidaksanggupannya dalam berebut air. Kemudian mereka itu  menunggu hingga malam hari, manusia sudah pergi, dan hingga sumber air sepi dari desakan orang-orang.
9.      Ketika kita berada di dalam masa perdamaian, orang-orang yang memiliki akal yang benar tetap seperti gunung. Akan tetapi, ketika kami dalam peperangan, kami ringan seperti jin dan tak ada seorang pun yang dapat melawan kami.
10.  Dan jika kami begitu, maka kamu tidak akan mampu wahai Jarir, untuk memperoleh kemuliaan seperti kami. Dan apabila kamu berusaha, maka kamu seperti orang yang berusaha menggeser gunung tsahlan dari tempatnya dan ini mustahil.

E.     Catatan (التعليق)

a.       Contoh syi’ir di atas merupakan sebuah naqooidh (النقائض) yang terjadi antara  al-Farazdaq dengan Jarir.  Naqooidh adalah syi’ir yang bercampur di dalamnya antara al-fakhro (الفخر) dan al-hija’ (الهجاء) yang di dalamnya terdapat banyak syarat tentang suku terdahulu di zaman Jahiliyah dan masa depannya di zaman Bani Umaiyah. Maka dari itu, seorang penyair ketika melantunkan sebuah syi’ir mereka, akan dibalas atau dijawab oleh musuhnya dengan sebuah syi’ir yang sama wazannya dan qofiyahnya. Mereka (para penyair) itu saling melawan dan menghancurkan antara yang satu dengan yang lainnya.
b.      Syi’ir di atas mempunyai dua tujuan dasar, yaitu: pertama, al-Farazdaq membangga-banggakan asal keturunannya yang mulia, keberanian kaumnya serta kecerdikan akal mereka. Kedua, al-Farazdaq mengejek Jarir karena kehinaan asalnya dan kerendahan nasabnya.
c.       Pemikiran syi’ir di atas tidak tersusun secara rapi dan juga tidak bagus, karena bertentangan dengan ruh Islam yang melarang berbangga-bangga dengan jumlah dan keturunan, menolak mengejek manusia dan mengolok-olok mereka. Inilah salah satu contoh syi’ir an-naqooidh.
Dengan menerima beberapa aib tadi, maka sebagaian pengkritik berpendapat bahwa syi’ir an-Naqooidh (النقائض) telah memberikan faedah kepada bahasa dan sastra dengan apa-apa yang terkandung di dalamnya dan uslub-uslub yang baru, gambaran yang menajubkan, serta kekayaan bahasa. Sebagaimana mereka berpendapat bahwa di dalamnya terdapat catatan sejarah atas banyaknya kejadian dan adat dari bangsa Arab. Sesungguhnya, syi’ir an-Naqooidh (النقائض) adalah fakta tentang syi’ir yang meluas di zaman Bani Umaiyah, dimana tidak ada yang dapat mengimbanginya di semua zaman peradaban Arab.

F.      Uslub Balaghoh dari Sya’ir Al-Farazdaq

Di bawah ini beberapa uslub balaghoh yang terdapat dalam sya’ir al-Farazdaq di atas, diantaranya adalah:
1)      Kinayah
-        الذى سمك السماء: كناية عن الله سبحانه و تعالى
-        دعائمه أعز و أطول: كناية عن العلو و الرفعة
-        إن الزحام لغيركم: كناية عن ضعف قوم جرير
Rahasia kinayah dalam balaghoh adalah menjelaskan makna dan membangkitkan kesadaran para pendengar.
2)      Isti’arah
-         (ضرب عليك العنكبوت) فقد شبه بيت جرير في ضعفه بيت العنكبوت, و هي توحي بالازدراء
3)      Tasybih
            Uslub balaghoh dalam sya’ir al-Farazdaq di atas terdapat pada baris awal dari bait ke sembilan (أَحْلامُنَا تَزِنُ الْجِبَالَ زَرَانَةً). Penyair menyerupakan akal-akal kaumnya dalam ketetapannya dengan gunung. Sedangkan, pada baris ke dua (و تَخَالُنَا جِنًا إذا ما نَجْهَلُ) penyair menyerupakan mereka dalam kekuatannya seperti jin, yaitu memberikan gambaran kebebasan mereka dalam setiap waktu.
4)      Insya’i
-         هل يتحلحل؟: إستفهام للنفى
-         و ترقبوا  : أمر غرضه السخرية
-         ادفع      : أمر غرضه التعجيز. و بقية الأساليب خبرية غرضها الفخر أو الهجاء.


G.    Keistimewaan Syi’ir al-Farazdaq

a.       Al-Farazdaq mampu menggambarkan fenomena sosial yang terjadi di Arab ke dalam syi’irnya. Maka, penopang rumah menunjukkan tenda yang ditinggal oleh orang Arab dan bersembunyi di teras rumah yang merupakan adat dari mereka. Sedikitnya sumber mata air yang menyebabkan terjadinya perebutan diantara mereka, suku yang kuat berada di depan untuk minum dan suku yang lemah berada di belakang. Seperti halnya, syi’ir-syi’ir itu membalikkan sesuatu dari pengetahuan penyair tentang Islam. Seperti dalam ucapan:
سمك السماء, حكم السماء, ضربت عليك العنكبوت.
b.      Uslub-uslub balaghoh yang terkandung dalam syi’iral-Farazdaq memiliki perbedaan atau keistimewaan tentang kekuatan serta menyebarnya gambaran kebaduwiyahan dan kata-kata yang aneh. Oleh karena itu, banyak ahli bahasa yang memperhatikan syi’ir-syi’irnya. Pengkritik berpendapat tentangnya:"إنه ينحت من صخر", “sesungguhnya dia mengukir dari gurun pasir”.

H.    KESIMPULAN
Masa Umaiyah yang mempunyai format baru dalam pemerintahannya, telah memungkinkan para penyair masa ini untuk mengembangkan potensi kepenyairan mereka dengan cara yang lebih bebas. Hal ini didukung oleh munculnya partai politik, sekte, fanatisme kebangsaan, dll. Hal ini menyediakan lapangan pekerjaan bagi para penyair untuk menjadi juru bicara setiap kelompok. Mereka bertindak sebagai penyerang atau penjaga gawang bagi kelompoknya.Tidak heran bila jenis puisi politik (baik hija’ maupun fakhro) menjadi trend pada masa ini.
Sebagai penyair yang tumbuh dalam lingkungan kondusif untuk mengembangkan potensi penyair hija’, al-Farazdaq menemukan genre baru dalam syi’ir hija’ atau fakhro, yaitu syi’ir polemik/ pertikaian individual. Adapun materi dari syi’ir hija’ adalah meninggikan individu yang bersyair dan merendahkan lawannya bahkan juga sukunya. Puisi sebagai alat hegemoni suatu kekuatan harus ditangkis dengan alat yang sama. Nyatalah bahwa puisi memerankan kekuatan efektif untuk membela dan menyerang individu atau kelompok lainnya di zaman Bani Umaiyah tersebut.

Teori Strukturalisme Naratologi

A.    Pendahuluan
Teori sastra, khususnya sejak awal abad ke-20 berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini dengan sendirinya sejajar dengan terjadinya kompleksitas kehidupan manusia, yang kemudian memicu perkembangan genre sastra. Kemajuan dalam bidang teknologi informasi menopang sarana dan prasarana penelitian yang secara keseluruhan membantu memberikan kemudahan dalam proses pelaksanaannya. Fungsi utama karya sastra adalah untuk melukiskan, mencerminkan kehidupan manusia, sedangkan kehidupan manusia itu sendiri selalu mengalami perkembangan. Dalam hubungan inilah diperlukan genre dan teori sastra yang berbeda untuk memahaminya.

Setiap karya sastra pasti memiliki cerita. Ceritalah yang menjadi tiang penyangga sebuah karya sastra, tanpa cerita dan penceritaan mungkin tak akan ada rekaman aktivitas kultural. Pernyataan ini sejalan dengan visi sastra kontemporer yang memandang bahwa sebagai seni waktu, penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural, dengan pertimbangan bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya.

 Berkaitan dengan masalah konsep cerita dan penceritaan dalam suatu karya sastra itu termasuk dalam kajian naratologi. Yang mana, hal tersebut akan penulis bahas dalam makalah ini. Mulai dari pengertian, tokoh-tokoh, dan beberapa hal lain yang berkaitan dengan strukturalisme naratologi tersebut.

B.     Strukturalisme Naratologi
Secara definitif strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme  antar hubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, di pihak yang lain hubungan antara unsur dengan totalitasnya. Hubungan tersebut tidak semata-mata bersifat positif, seperti keselarasan, kesesuaian, dan kesepahaman, tetapi juga bisa negatif, seperti konflik dan pertentangan.

Istilah struktur sering dikacaukan dengan sistem. Definisi dan ciri-ciri sruktur sering disamakan dengan definisi dan ciri-ciri sistem. Secara etimologis struktur berasal dari kata structura (Latin), berati bentuk, bangunan, sedangkan sistem berasal dari kata systema (Latin), berarti cara. Struktur dengan demikian menunjuk pada kata benda, sedangkan sistem menunjuk pada kata kerja. Pengertian-pengertian struktur yang telah digunakan untuk menunjuk unsur-unsur yang membentuk totalitas pada dasarnya telah mengimplikasikan keterlibatan sistem. Artinya, cara kerja sebagaimana ditunjukkan oleh mekanisme antar hubungan sehingga terbentuk totalitas adalah sistem. Dengan kalimat lain, tanpa keterlibatan sistem, maka unsur-unsur hanyalah agregasi.

Dalam buku Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra dijelaskan bahwa naratologi berasal dari kata narration (bahasa Latin, berarti cerita, perkataan, kisah, hikayat) dan logos (ilmu). Naratologi disebut juga teori wacana (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Sementara struktur naratif fiksional adalah rangkaian peristiwa yang di dalamnya terkandung unsur-unsur lain, seperti: tokoh-tokoh, latar, sudut pandang dan sebagainya. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa, sastra dan budaya, yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek humaniora. Untuk kajian naratologi, teori sastra kontemporer telah memberikan cakupan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Selain novel, roman, dan cerpen, dalam cakupan tersebut termasuk juga puisi naratif, dongeng, biografi, lelucon, mitos, epik, catatan harian, dan sebagainya. (Ratna, 2004: 128-130) 
Mieke Bal (Hudayat, 2007) menyebutkan bahwa narator atau agen naratif didefinisikan sebagai pembicara dalam teks, subjek secara linguistik, bukan person, bukan pengarang. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. 
Dalam pengkajiannya, naratologi diberikan kebebasan, maksudnya naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra, melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. Sebuah novel dianggap sebagai sebuah totalitas suatu karya yang secara menyeluruh bersifat atristik sebagai teks naratif. Chatman membagi unsur struktur naratif menjadi dua bagian yaitu cerita dan wacana. Unsur cerita adalah apa yang ingin dilukiskan dalam teks naratif itu, sedang wacana adalah bagaimana cara melukiskanya (Nurgiyantoro, 2002: 26). Unsur cerita terdiri dari peristiwa dan wujud keberadaanya, eksistensinya. Peristiwa itu sendiri dapat berupa aksi (peristiwa yang berupa tindakan manusia) dan kejadian (peristiwa yang bukan hasil tindakan manusia). Dalam wujud eksisteninya unsur cerita terdiri dari tokoh dan latar. Wacana dipihak lain, merupakan saran untuk mengungkapkan isi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan mengenai konsep naratologi, yakni naratologi merupakan cabang dari strukturalisme yang mempelajari struktur naratif dan bagaimana struktur tersebut mempengaruhi persepsi pembaca. Kajian naratologi dapat digunakan untuk mengkaji karya sastra, seperti novel, roman, cerita pendek, puisi naratif, dongeng, biografi, lelucon, mitos, epik, catatan harian, dan sebagainya. Naratologi berasumsi bahwa, cerita adalah tulang punggung karya sastra. Di sisi lain, cerita juga berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Secara historis, menurut Marie-Laureryan dan Van Alphen (Makaryk, ed., 1990: 110-114), naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode sebagai berikut:
1. Periode prastrukturalis (-hingga tahun 1960-an)
2. Periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an)
3. Periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang)
  
C.    Tokoh-Tokoh Strukturalisme Naratologi
Beberapa tokoh strukturalisme naratologi yang terkenal adalah sebagai berikut:
a)      Vladimir Lakovlevich Propp
Propp (1985-1970) dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif, sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi febula dan sjuzhet (cerita dan plot). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat, seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas pada tahun 1958. Propp (1987) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Artinya, dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah, tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. 

Menurut Propp (1987: 24-27; cf. Scholes, 1977: 60-73; junus, 1988: 62-72), dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh, melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut sebagai fungsi. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen), unit terkecil yang membentuk tema.
b)     Claude Levi-Strauss
Claude Levi Strauss, seorang antropolog melakukan pendekatan yang hampir sama dengan Vladimir Propp. Meskipun demikian, menurut Scholes (1977: 59-70; cf. Junus, 1988: 64-65) keduanya tetap berbeda. Pertama, apabila Propp memberikan perhatian pada cerita, Levi Strauss lebih banyak memberikan perhatian pada mitos. Kedua, apabila Propp menilai cerita sebagai kualitas estetis, Levi Strauss menilainya sebagai kualitas logis. Ketiga, apabila Propp menggunakan konsep fungsi sebagai istilah kunci, atas dasar asumsi linguistik seperti phone dan phoneme, Levi Strauss mengembangkan istilah myth dan mytheme. Keempat, berbeda dengan Propp yang memberikan perhatian pada naratif individual, Levi-Strauss memberikan perhatian terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng, baik secara bulat maupun fragmentaris. Menurutnya, mitos adalah naratif itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu.

c)      Tzevetan Tadorov
Tzvetan Todorov. Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan sjuzhet, Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Dalam menganalisis tokoh-tokoh, Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi, yaitu: kehendak, komunikasi, dan partisipasi. Menurutnya, objek formal puitika bukan interpretasi atau makna, melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek, yaitu (1) aspek sintaksis, meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis, (2) aspek semantik, berkaitan dengan makna dan lambang, meneliti tema, tokoh, dan latar, dan (4) aspek verbal, meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang, gaya bahasa, dan sebagainya.

d)     Algirdas Julien Greimas
Algridas Julien Greimas adalah seorang ahli sastra yang berasal dari Perancis. Sebagai seorang penganut teori struktural, ia telah berhasil mengembangkan teori strukturalisme menjadi strukturalisme naratif dan memperkenalkan konsep satuan naratif terkecil dalam karya sastra yang disebut aktan. Teori ini dikembangkan atas dasar analogi-analogi struktural dalam Linguistik yang berasal dari Ferdinand de Saussure, dan Greimas menerapkan teorinya dalam dongeng atau cerita rakyat Rusia. 
 
 Aktan adalah sesuatu yang abstrak seperti cinta, kebebasan, atau sekelompok tokoh. Pengertian aktan dihubungkan dengan satuan sintaksis naratif, yaitu unsur sintaksis yang mempunyai fungsi– fungsi tertentu. Fungsi itu sendiri dapat diartikan sebagai satuan dasar cerita yang menerangkan tindakan bermakna yang membentuk narasi. Aktan dalam teori Greimas menempati enam fungsi, yaitu (1) subjek, (2) objek, (3) pengirim atau sender , (4) penerima atau receiver , (5) penolong atau helper, dan (6) penentang atau opposant. Keenam fungsi aktan yang juga dapat disebut sebagai tiga pasangan oposisional tersebut, apabila disusun dalam sebuah skema dapat digambarkan sebagai berikut. (Jabrohim, 1996:13)

Pengirim    >      Objek      <     Penerima

Penolong   >      Subjek       <  Penentang

Tanda panah dalam skema menjadi unsur penting yang menghubungkan fungsi sintaksis naratif masing-masing aktan. Adapun penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Pengirim (sender) adalah seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber ide dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Sender ini yang menimbulkan keinginan bagi subjek untuk mendapatkan objek.
2. Penerima (receiver) adalah sesuatu atau seseorang yang menerima objek hasil perjuangan subjek.
3. Subjek adalah seseorang atau sesuatu yang ditugasi oleh sender  untuk mendapatkan objek yang diinginkannya.
4. Objek adalah seseorang atau sesuatu yang diinginkan atau dicari oleh subjek.
 5. Penolong (helper) adalah seseorang atau sesuatu yang membantu memudahkan usaha subjek dalam mendapatkan objek sebagai keinginannya.
6. Penghalang (opposant) adalah seseorang atau sesuatu yang menghalangi usaha atau perjuangan subjek dalam mendapatkan objek.
7. Tanda panah dari sender yang mengarah pada objek mengandung arti bahwa dari sender  ada keinginan untuk mendapatkan objek. Tanda panah dari objek ke receiver mengandung arti bahwa sesuatu yang dicari subjek atas keinginan sender diberikan pada receiver.
8. Tanda panah dari helper ke subjek mengandung arti bahwa helper memberikan bantuan kepada subjek dalam rangka menunaikan tugas yang dibebankan oleh sender. Tanda panah dari opposant  ke subjek mengandung arti bahwa opposant mengganggu, menghalangi, menentang dan merusak usaha subjek.
9. Tanda panah subjek ke objek mengandung arti subjek bertugas menemukan objek yang dibebankan oleh sender.

e)      Shlomith Rimmon-Kenan
Rimmon Kenan (1983: 1-5) berpendapat bahwa wacana naratif meliputi keseluruhan kehidupan manusia. Menurutnya, teks adalah wacana yang diucapkan atau ditulis apa yang dibaca. Dan,  narration adalah tindak atau proses produksi yang mengimplikasikan seseorang, baik sebagai fakta maupun fiksi yang mengucapkan atau menulis wacana. Meskipun demikian, ia hanya mencurahkan perhatiannya pada wacana naratif fiksi. Oleh karena itulah, ia mendefinisikan fiksi naratif sebagai urutan peristiwa fiksional. Berbeda dengan narasi lain, fiksi dengan demikian mensyaratkan:
a) proses komunikasi, proses naratif sebagai pesan yang ditransmisikan oleh pengirim kepada penerima, dan
b) struktur verbal medium yang digunakan untuk mentransmisikan pesan.

D.    Kesimpulan
Naratologi sering disebut juga dengan teori wacana teks naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. Naratologi mempunyai asumsi bahwa, cerita adalah tulang punggung dari suatu karya sastra. Di sisi lain, cerita juga berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Secara garis besar, konsep dari naratologi dalam meneliti suatu karya sastra, yakni mengkajinya dari sudut pandang cerita (naration)-nya. Mempelajari struktur naratif dan bagaimana struktur tersebut mempengaruhi persepsi pembaca. Dengan kata lain, naratologi adalah usaha untuk mempelajari sifat ‘cerita’ sebagai konsep dan sebagai praktek budaya. Diantara tokoh naratologi yang terkenal, yaitu: Vladimir Lakovlevich Propp, Claude Levi-Strauss, Tzevetan Tadorov, Algirdas Julien Greimas, dan Shlomith Rimmon-Kenan.

DAFTAR PUSTAKA

Jabrohim. 1996. Pasar dalam Perspektif Greimas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Junus, Umar. 1988. Karya Sebagai Sumber Makna: Pengantar Strukturalisme. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Sastra. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.